Monday, 16 December 2013

Resensi Buku The Strawberry Surprise - Desi Puspitasari


cover The Strawberry Suprise
Judul : The Strawberry Surprise
Penulis : Desi Puspitasari
Tebal : 270  halaman
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Mei 2013
ISBN : 978-602-7888-36-4
Rate : 3/5

Blurb :
Tak ada yang tahu bagaimana cara kenangan bekerja.
Ia bebas keluar-masuk ingatan seenaknya sendiri.
Lalu tiba-tiba sosoknya datang penuh kejutan.
Menghampiri dan menawari cinta itu hadir kembali.

Bersamamu seperti menikmati sepotong strawberry.
Meledak-ledak, manis, masam, dan tak terduga.
Tapi keraguan selalu muncul, sekalipun lima tahun sudah terlewat.
Hingga kau bertanya, beranikah aku menikmati strawberry denganmu?
Merasakan hidup penuh kejutan, bersama-sama, selamanya

Resensi :
Aggi, seorang gadis asal Jogja yang hobi fotografi, menemukan sebuah paket di kosnya berisi sebuah buku berjudul Kisah Mata, karangan Seno Gumira Ajidarma. Paket itu dikirim oleh Peter yang beralamat di Bandung. Aggi penasaran siapa yang mengirim karena seingatnya, tak ada teman dari Bandung bernama Peter. Saking penasaran, Aggi melacak keberadaan alamat itu, siapa yang ada di sana. Penelusuran Aggi membuat ia kaget, ternyata alamat itu mengarahkannya pada cinta masa lalunya, cinta lima tahun lalu.

Adalah Timur-lelaki yang bekerja di biro iklan di Bandung. Lelaki yang ternyata masih mencintai Aggi setelah mereka sepakat berpisah selama lima tahun. Cinta yang hambar kata Aggi dulu yang membuat mereka berpisah. Selama lima tahun, Timur tak pernah memikirkan Aggi, hingga suatu ketika ia teringat tawa manis Aggi. Sebuah clue untuk pertemuannya dengan gadis itu.

"Setelah lima tahun, kalau kamu tidak punya pacar, kalau aku tidak punya pacar, kita coba lagi untuk bertemu."

Timur pun mengirimi Aggi sebuah buku sebagai pembuka jalan bagi pertemuannya dengan Aggi. Timur tahu, Aggi bukan gadis biasa, ia menganut filosofi strawberry : asam, manis, meledak-ledak, penuh kejutan, antikonstipasi. Sehingga Timur membuat skenario agar  mereka bertemu lagi dengan adegan tak biasa.

Keduanya bertemu kembali di amfiteater Taman Budaya Yogyakarta. Timur sengaja datang dari Bandung untuk bisa bertemu lagi dengan Aggi. Sayangnya pertemuan kembali setelah lima tahun ternyata membuat mereka tampak canggung dengan adegan tak romantis seperti di FTV, hingga Aggi meragukan cinta yang ditawarkan Timur. Apalagi selama lima tahun terakhir banyak hal terjadi, baik pada dirinya maupun pada Timur. Hingga akhirnya Aggi pun mengajukan sebuah rencana.

“Ini rencanaku: setiap pekan kamu harus datang ke Yogyakarta. Aku akan menceritakan satu demi satu laki-laki yang pernah dekat dan pernah mengecewakanku sehingga aku menjadi skeptis seperti ini. Dan, kamu harus mendengarkan.”

Tak ada yang tahu bagaimana cara kenangan bekerja.
Ia bebas keluar-masuk ingatan seenaknya sendiri

Aggi dan Timur adalah karakter unik yang tercipta di novel ini. Novel seri Love Flavour yang pertama kali saya baca karena covernya yang menarik. Satu kotak penuh berisi strawberry. Buku ini memiliki konsep unik. Buku yang ditempeli selembar kertas berisi judul, nama penulis dan tagline buku, sehingga jika kertasnya dibuka, baru terlihat semua strawberry yang ada di covernya.

Mengambil tema love flavour, penerbitnya mengambil gebrakan untuk mengambil segmen pembaca yang fanatik, karena jika salah satu seri dinikmati dengan manis maka seri lainnya pun akan dilahap juga. Love dan flavour adalah point yang paling mendominasi di novel seri ini. Kisah cinta ini dituturkan dengan alur maju mundur. Lewat dialog tokohnya meski terkesan baku dan kaku, setelah di tengah buku bisa mudah untuk dinikmati. Mungkin ini interpretasi dari sebuah kecanggungan yang muncul akibat terlalu lama tak bertemu. Bayangkan saja selama lima tahun apa yang terjadi, tentu cinta tak lagi sama seperti sebelumnya, butuh adaptasi lagi. Cinta yang sebelumnya hambar berubah jadi asam di awal pertemuan kembali, lalu berbuah meledak-ledak rasanya seperti mengalami sebuah kejutan tak terduga. Lalu diakhiri dengan rasa manis karena akhirnya menemukan rindu yang muaranya sama.

Aggi mengalami kisah cinta yang unik dengan tiga lelaki yang ia beri julukan laki-laki selai kacang, laki-laki permen karet stroberi, laki-laki stroberi flamboyan. Ia baru sadar belum memahami Timur sepenuhnya, apa jenis strawberry yang ada dalam diri Timur? Sisi asam yang belum ia temukan karena ia terlalu jatuh cinta? Pada akhirnya relasi cinta seaneh apapun yang dialami Timur terhadap Aggi adalah relasi cinta yang mampu memberikan kenyamanan emosional, bukti bahwa Timur mau menerima Aggi apa adanya dengan segala keanehan pikiran gadis itu yang kadang sulit ditebak.

Beberapa istilah tentang fotografi, cara penggunaan kamera analog, penggunaan bahasa asing seperti bahasa prancis, dan setting tempat di Jogja dan Bandung menjadi daya tarik dari novel ini. Lokalitas yang dibangun dengan apik karena penulisnya seakan mengenal sekali kedua tempat itu, seperti istilah pacaran ala Jogja yang terlalu nyeni, karena memang perginya ke galeri seni, nonton teater, dan ngomoningin soal musik. Lalu bagian penggambaran kota Bandung di mana jalanan Braga, cafe-cafe yang bertebaran di sana, lalu sisi unik perempuan dan lelaki Bandung yang sering menggunakan baju warna warni membuat serasi dengan warna kulit, beda dengan perempuan Jogja yang cenderung monoton dengan satu warna : coklat. Romantis yang tak biasa pun bisa dibangun penulisnya meski di bagian lelaki strawberry flamboyan saya merasa bosan, entah mungkin karena analogi strawberry diulang lagi seperti di awal kisah.

Ada dialog yang saya suka seperti di adegan ini :
“Saat hari kerja, intensitas bertemu hanya sebentar. Berangkat saat pagi dan pulang dalam keadaan keadaan lelah. Bertemu sama-sama dalam keadaan letih. Banyak kebiasaan sepele yang luput dari pengamatan. Saat akhir pekan biasanya orang akan lebih menunjukkan tabiat asli. Bermalas-malasan, bangun terlambat, tidak mandi seharian, sarapan saat siang dan makan malam dengan mi instan, menonton televisi sambil mengupil, dan sebagainya. Katanya pernikahan itu menerima pasangan dengan seluruh kelebihan dan kekurangan. Dengan ketakutan-ketakutan yang kamu utarakan tadi, kukira kamu mau hidup bersamaku hanya hari kerja. Tidak pada akhir pekan.” (hal. 231).
“Kamu tahu mengapa kakak atau adik dalam sebuah keluarga suka sekali ribut? Bertengkar karena hal sepele? Mengapa seorang anak berani merajuk lebih sering kepada ibu atau ayahnya ketimbang kepada orang lain? Karena sehebat apa pun pertengkaran kakak dan adik itu, sekesal apa pun karena ayah atau ibu tidak menanggapi rajukan dengan serius, mereka tahu mereka masih bisa kembali berbaikan dan mendapat pelukan. Mereka tidak takut akan kehilangan salah seorang.” (hal. 232).
Saya rasa penulisnya cukup lihai untuk menggambarkan relasi macam apa yang diinginkan dari sebuah rasa strawberry yang meledak-ledak. Lalu, bagaimana ending untuk kisah Aggi dan Timur? Silahkan baca sendiri novel ini. 3 bintang untuk novel ini dari saya. ;)

5 comments:

  1. Awww...percakapan terakhir itu suka banget. Nice la. Ini untuk lomba Love Flavour Bentang kan?

    ReplyDelete
  2. Keknya seru deh buku ini. jadi pengen baca :D
    Etapi aku sih gak suka stroberi. Takut ada ulatnyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. karakter tokohnya yang sesuai dengan filosofi strawberry. kalo strawberrynya sendiri di sini jarang beli, mba :D

      Delete
  3. buah strawberrynya seger banget di covenrya

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)