Monday, 2 December 2013

Resensi Buku Don't Die, My Love - Lurlene McDaniel




Biodata Buku:
Judul: Don't Die, My Love
Pengarang : Lurlene McDaniel 
Penerbit : Laluna and Friends 
Terbit : Juni 2013 
ISBN - 13 : 978-602-97197-3-4 
Jumlah halaman : 300 halaman 


Sinopsis Buku :
Julie dan Luke sudah berpacaran sejak duduk di kelas 8 dan telah berjanji akan menikah bila dewasa nanti. Mereka merasa ditakdirkan untuk bersatu dan akan selalu bersama selamanya. 

Saat posisinya sebagai pemain football berbakat sedang melambung dan mendapat tawaran beasiswa dari berbagai universitas, Luke divonis terkena kanker. Julie sama sekali tidak mau membayangkan hidup tanpa Luke. Julie berkeyakinan bahwa Luke pasti akan sembuh. 

Namun bagaimana bila cinta diuji? Dapatkah cinta bertahan, sekarang dan selamanya? 

***
Sebuah kisah cinta dan segalanya tentang cinta dan pengorbanan. Romantisme remaja yang indah sekaligus mengharu biru. 

***

“.... Kesetiaan Julie sama Luke bisa jadi pelajaran berharga. A truly love lesson worth to read indeed.”
— Majalah Gogirl!

“Kisah cinta yang manis.... Mem baca buku ini jadi banyak belajar tentang cinta sejati dan pengor­banan.”
— Asri Mirza (Redaktur Senior GADIS)

“Novel ini menunjukkan bahwa remaja pun perlu menghadapi kenyataan hidup yang kerap pedih, agar menjadi lebih dewasa....”
— Rini Nurul Badriah

“Ceritanya bagus banget sist. membaca cerita cinta tentang Luke dan Julie bikin aku terharu dan nangis.... Membuatku makin menghargai apa yang aku punya dalam hidupku.”
— Lisa Elita

Resensi Buku : 

Buku ini berkisah tentang Luke dan Julie, sepasang remaja yang saling jatuh cinta sejak lama. Mereka menjadi sepasang kekasih. Orang tua Julie mengenal Luke sebagai pribadi yang menyenangkan, apalagi Luke seorang anak didik dari tim yang dibina oleh ayah Julie, Bud. Satu-satunya yang tak setuju hubungan Julie adalah ibu Julie. Sementara ayah Julie, Bud memanjakan Luke seperti anaknya sendiri.

Julie paham benar bahwa tim football adalah segalanya bagi Luke. Bahkan ia harus rela tak bisa menghabiskan banyak waktu ketika Luke menyelesaikan musim pertandingannya. Luke memang anak miskin, ia sejak ditinggal meninggal ayahnya, memilih untuk bekerja di musim panas untuk membiayai hidupnya. Sedangkan ibunya bekerja di pabrik. Satu-satunya yang membuat Luke merasa masa depannya cerah hanyalah berusaha sekuat tenaga agar dia bertanding bagus dan memecahkan rekor untuk mencetak angka. Dengan begitu, akan ada harapan untuknya mendapatkan beasiswa kuliah di bidang olahraga. 

Sayangnya, harapan Luke kandas, saat tahu bahwa ia mengalami sakit parah. Luke terlambat mengetahuinya saat penyakitnya sudah mengganas. Ia didiagnosa dokter sakit kanker limfoma hodgkin. Susunan syaraf dalam tubuhnya sudah melemah bahkan hingga mengenai paru-parunya. Dokter menyarankan untuk penyembuhan berupa kemoterapi, obat-obatan, dll. Tapi tak ada yang bisa menentukan takdir hidup seseorang kan? Bagaimana akhir kisah Luke dan Julie? Akankah kisahnya berbuah manis?

Btw, pertama baca buku ini, saya baru dengar nama penulisnya. Mungkin karena frekuensi membaca novel terjemahan masih kurang buat saya. Jadi, setelah selesai baca, surprise dengan isinya yang maniiiss. Sukaa deh dengan terjemahannya yang tanpa mengurangi kehalusan bahasanya. ;) 

Kisah cinta Luke dan Julie di buku ini digambarkan manis. Love it! Ada bagian di mana Luke benar-benar merasa hidupnya tak berguna, tapi Julie selalu ada di sana, setia menemani Luke melakukan terapi untuk kesembuhannya. Luke juga selalu memberi Julie bunga setiap kali gadis itu ngambek dan marah. Luke menghujani Julie dengan kata-kata romantis, bunga dan kado istimewa. Buat saya memang kedengarannya agak lebay dan janggal ya, seorang anak remaja jatuh cinta dengan begitu dalam di usia yang terlalu muda? Seperti orang dewasa saja. Wehehe. :D  Wajar jika ibu Julie marah dan lebih menyuruh Julie untuk fokus pada sekolahnya. Saya lebih suka karakter ibu Julie seperti ini. Tegas dan keras. Lagipula belum saatnya cinta datang pada mereka ketika masa sekolah SMA saja belum usai. 

Karakter Luke digambarkan seperti pelindung bagi ibunya. Ia bahkan meminta tolong pada Julie untuk memastikan ibunya pulang dengan selamat setelah pulang dari rumah sakit. Luke juga tak mau ibunya tahu bahwa ia sakit sejak lama, hanya agar ibunya tak khawatir dan menghabiskan banyak biaya. 

Setau saya, lelaki ketika mengalami masa sulit agak cenderung berdiam dalam guanya, tapi Luke tidak. Rasa nyaman terhadap Julie membuat Luke mau menceritakan rasa sakitnya. Mendengarkan saran Julie. Padahal sebelumnya ia bahkan tak pernah berani untuk bercerita pada ibunya. Hanya pada Julie dia mau menceritakan segalanya. Rasa nyamanlah komunikasi yang sesungguhnya mengeratkan cinta mereka, bahkan ketika salah seorang teman mengatakan mengapa tak memilih orang lain? Julie tetap memilih Luke karena baginya rasa nyaman itu hanya didapatkan pada Luke. Tidak pada yang lainnya. 

Quote yang saya suka : 

"Tanpamu, aku tidak mau kembali ke sini. Tempat ini indah, tapi hanya karena kau ada bersamaku." (halm 185)

"Aku memang mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu, mana mungkin aku tega menjadikanmu pengantin sekaligus janda di bulan yang sama." (265)

Cinta memang tak semestinya dipegang dengan begitu erat. Sayangnya, tak pernah ada logika ketika jatuh dalam cinta. Itu yang dialami Julie pada Luke, hingga ia terlalu jauh terpuruk ketika Luke tak ada. Akankah Julie bisa melupakan cintanya?

Untuk sebuah kisah cinta yang romantis, saya memberi rating 4/5. ;)

2 comments:

  1. Aku juga merasa asing dengan nama pengarangnya. Wajar sih. Terbit di Indonesia, baru tahun 2013. Ada kemungkinan penulis baru.... Hehehe

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)