Monday, 9 December 2013

Reportase Arisan Buku Klub Buku Milana Tegal


Tim Klub Buku Milana Tegal : saya, Mba Widhie, Ayie, dan Lana.
Makasih udah pada dateng yaa ^_^

Biodata Buku : 
Judul Buku : Dance For Two
Penulis : Tyas Effendi
Tebal : 244 halaman
Terbit : November 2013
Penerbit : GagasMedia
ISBN : 9797806723

Buku jatah arisan buku, minus lontang lantung,
soalnya bukunya ketinggalan di rumah mba Widhie :D
Blurb :

Dear editor,

Saya terjebak dalam cerita yang saya mulai sendiri. Saya selalu membiarkanmu mengacaukan kata-kata yang sudah saya urutkan, membiarkanmu memenggal kepala huruf-huruf yang sudah berbaris rapi itu. Saya pun menikmati setiap cara yang saya lakukan untuk merangkainya kembali, lalu menyusunnya menjadi mozaik baru yang kamu suka.

Ini tentangmu, percayalah. Bagian mana dari dirimu yang tidak saya tahu? Tak ada satu celah pun yang terlewat; setiap potong kehidupanmu adalah gambaran paling jelas yang tersimpan dalam benak saya. Setiap langkahmu adalah jejak tanpa putus yang tercetak di atas peta saya.

Saya tidak ingin selamanya menjadi rahasia. Saya hidupkan kamu dalam cerita

Novel Dance for Two dan Penunggu Puncak Ancala
lagi baca review dance for two di goodreads indonesia
saling minjem buku terbitan gagasmedia dan bukune


Hasil Diskusi :

Klub buku kami bernama Klub Buku Milana, dari Tegal. Berisi empat orang anggota yaitu saya(Ila), Widhie, Ayie, dan Lana. Kami berempat suka membaca buku terbitan gagasmedia dan bukune, terlebih ketika ada tawaran untuk membentuk klub buku maka kami pun mengajukan nama kami. Saat ini klub buku Milana memang masih dalam tahap pengembangan. Dengan personil yang hanya 4 orang ini, kami berempat ingin mengembangkan minat baca dengan diskusi buku dan bookswap. Tentu jika buku diputar di antara kami, maka akan terjadi saling mereview buku yang sudah dibaca. Meski masih tergolong baru, kasih sering betemu hanya saja tidak lengkap.

Tiga bulan pertama klub buku ini berdiri, kami mendapat 3 buku masing-masing berjudul Paris : Aline, Penunggu Puncak Ancala dan Lontang Lantung. Untuk link resensi bisa klik di blog Lana, saya dan mba Widhie. Untuk Penunggu Puncak Ancala saya baru baca separuh, jujur, saya serem kalo baca novel horor. Heuheu. Jadi belum kelar bacanya, sekarang bukunya dibawa mba Widhie. Kalo yang Lontang Lantung sudah direview oleh Mba Widhie hanya saja pas acara ngumpul terakhir, bukunya ga dibawa, jadi ga kefoto yah.  Sedangkan Ayie sempat ke luar kota waktu saya, mba Widhie dan Lana ketemuan, jadi tiga bulan pertama lebih sering ngumpul bertiga. Kadang Lana dan Ayie yang dateng, kadang Mba widhie dan Lana yang dateng ke rumah saya. Tetap tak mengurangi keasyikan kami membaca buku, karena kami masih suka menukar buku bacaan.

Bulan keempat jatah buku yang kami dapat adalah Dance for Two, buku ini sempet nyasar nyampe ke Surabaya ga tau kenapa. Tapi alhamdulillah nyampe juga. Dan kami langsung janjian capcus buat ngumpul di rumah saya. Berempat kami membahas seputar buku ini tanggal 7 pukul 16.00.  Ayie yang rumahnya paling jauh, alhamdulillah jadi dateng, pake acara ngebut juga, karena dikiranya mendung di Slawi. Hehe. Makasih udah dateng yaa.

Buku Dance for Two yang ditulis oleh Tyas Effendi berkisah tentang kisah cinta Caja dan Albizia yang biasa dipanggil Al. Caja yang ternyata suka mengamati kehadiran Al, ternyata sudah jatuh hati sejak dulu, bahkan menjadi secret admirer. Sejak Al secara tak sengaja membunuh anak angsa yang ada di rumah nenek Caja, karena anak angsanya kaget kena cahaya jepretan kamera Al. Ia bahkan ingat pernah bertemu dengan Al di kereta setelah Al dan teman-temannya jail mengambil permen dan kacang kak Freya, kakak Caja yang seorang desainer. Kak Freya biasa memamerkan baju desainnya dengan menjadi patung orang di jalanan Kopenhagen.  Caja pun pernah bertemu dengan Al saat lelaki itu memotret  angsa di Soterdam So, sebuah danau yang terkenal di Kopenhagen, kota tempat Caja tinggal.

Segala hal tentang Al, Caja ingat dengan baik. Sayangnya sebagai secret admirer, ia enggan untuk dekat secara fisik dengan Al. Caja hanya mengamatinya dari jauh. Memandang lelaki yang ia kagumi itu sebatas hanya melihatnya saja itu pun sudah membuat Caja bahagia.

Caja merupakan gadis ballerina keturunan Jogja-Denmark. Dengan latar belakang keluarga yang bule, Caja memiliki nama yang campuran antara nama orang Denmark dan Jawa. Jadilah ia memilih untuk menggunakan nama Caja saat di Denmark, sedangkan ia menggunakan nama Satya, nama belakangnya saat ia kembali tinggal di Jogja. Hanya satu tujuan Caja mengapa ia memilih nama Satya untuk panggilannya, karena ia tak mau Al, yang ternyata menjadi editor untuk novelnya itu tau bahwa Caja yang ada dalam novelnya itu ternyata adalah kisah nyatanya.

Nama Al sengaja Caja samarkan di novel menjadi Aldri, tapi kejadian sepenuhnya yang terjadi di Kopenhagen selama Caja jatuh cinta dengan lelaki itu ia tuliskan dengan detail, meski ada bagian yang fiksi termasuk ending yang ia buat tak seperti aslinya.

Lalu, mengapa kisah ini menjadi sebuah kisah yang menarik? Rasanya karena kisah ini tak klise seperti kisah sinetron, ada sesuatu yang membedakan. Misalnya saja adegan saat Kak Freya dijailin teman-teman Al, saat Al memotret foto-foto berisi pohon yang ternyata merupakan gambaran dirinya, lalu saat Al dan Caja bertemu tanpa sengaja di danau Sotterdam. Dituturkan dengan manis oleh penulisnya, rasanya seakan pembaca disuguhkan kejadian demi kejadian yang nyata, membuat pembaca serasa ada di Kopenhagen menikmati kisah cinta Caja dan Al. Detail karakter yang dibangun oleh penulisnya pun membuat saya salut dengannya, karena setiap karakter yang dimunculkan memiliki tugas dalam menciptakan takdir kisah cinta Al dan Caja. Bagaimana Kak Freya yang membuat sweater untuk Hagen ternyata malah dipakai Caja, dan Caja terpaksa memberikan sweater itu saat Al masuk rumah sakit setelah kecelakaan di dekat danau saat mereka bertemu.

Lalu bagaimana Nikolaj juga menjadi tokoh yang pantas untuk dimasukkan sebagai tokoh pendamping dalam novel ini. Segala peran yang muncul tak sia-sia seakan membentuk simpul takdir para tokohnya.  Dengan ilustrasi yang manis di halaman isinya, membuat kami tertarik untuk membacanya hingga selesai, meski nama tokohnya terkesan membuat kening berkerut karena nama orang-orang Denmark susah diinget, hehe. Ditambah lagi dua font yang berbeda membuat saya mengernyitkan dahi, ternyata memang dibuat berbeda baik font huruf maupun gaya bicara agar bisa menunjukkan suasana hati setiap tokohnya. Misalnya saja Caja menggunakan tokoh saya, sedangkan Al menggunakan tokoh aku. Alurnya maju dengan bergantian dua tokoh secara selang seling.

Sempat saat kami -member klub buku- berdiskusi tentang apakah memang sedramatis itu kisah secret admirer? Mba Widhie yang tak percaya bahwa secret admirer seperti Caja ada di dunia nyata, membuat saya menyangkalnya. Haha. Soalnya saya memang pernah jadi secret admirer pas dulu di SMP. *uhuk* Jadi wajar saja kalau Caja bersikap seperti itu, hanya mengamati dari jauh, yang anehnya bahkan Al sama sekali tak pernah menganggap ia ada di Kopenhagen, saat mereka berpapasan bertemu pun Al tak pernah mengamati. Ya, namanya cinta sepihak seperti apa sih? :D

Lana pun mengiyakan ucapan saya, kenyataannya ada lho yang seperti Caja, mencintai diam-diam takut untuk terlihat nyata di hadapan yang ia sukai, justru milih ngumpet. Lhaaa, hehe. Kalau kisah cinta mau jadi kenyataan harusnya tetap berani menunjukkan jati diri. 

Itulah yang disampaikan dari inti kisah dalam novel ini. Jadi, pernahkah kamu menjadi  seorang Caja ataupun Al? Share dong di sini gimana perasaannya, deg-degannya, rasa asam manis cintanya, Hehe. :D

12 comments:

  1. Semoga klub bukunya makin maju n tambah anggota semangat yah...

    ReplyDelete
  2. ikut arisan buku juga ya ila, yuuk arisan buku bareeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba Rahmi. yang di semarang udah pada ngumpul?

      Delete
  3. hwakakkaak....jujur ga pernah heheheh,,,,tapi seruuu ya akhirnya bisa ngumpul juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. qiqiqi. iyaaa, nanti periode kedua ngumpulnya di tempat mba yaa :D

      Delete
  4. Buku Paris yang saya review termasuk suatu bentuk kenikmatan. Juga setelah baca Dance for two, jadi pengin pergi ke Denmark, nyari angsa di sana buat dijadikan sahabat atau kekasih. :D Terima kasih ya, kemarin bisa kumpul berempat. Obrolan yang asyik! :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, iya, termasuk salah foto juga masuk bagian yang asyik ya, Lana. backgroundnya jadi kayak lagi kemping di hutan :)) makasih ya udah dateng dan diskusi :D

      Delete
  5. wah seru yaa mbak punya klub arisan buku :)

    ReplyDelete
  6. Ini beneran di Tegal? keren.... kebetulan aku juga di Tegal, boleh gabung nggak nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba. Di tegal. Kalo domisilinya di Tegal bisa ikutan, kirim data diri(nama, id twitter, id fb, alamat blog, alamat rumah, no hp) ke emailku ya : sabilla.arrasyid@gmail.com. ditunggu :)

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)