Saturday, 30 November 2013

Resensi 12 Menit : Dreaming is believing. Vincero!


Dreaming is believing. Vincero!


Biodata Buku :
Judul buku : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura book
Terbit : Mei 2013 (cetakan pertama)
Tebal buku : 343 halaman
ISBN : 978-602-7816-33-6

***

Sebuah keputusan membuat Rene harus berjibaku mempertahankan impiannya untuk membawa tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim menjadi juara di GPMB Jakarta.  Demi dua belas menit yang menentukan, mereka harus berlatih siang malam untuk melatih memori otot selama sepuluh ribu jam. Mengorbankan apapun demi sebuah impian.

Rene pelatih yang sudah terbiasa melatih anak-anak Jakarta harus dihadapkan pada kenyataan bahwa timnya tak setangguh anak-anak Jakarta yang biasa dididik untuk menjadi juara. Bagi Rene ini adalah tantangan besar memimpin seratus duapuluh anak dari kota kecil untuk percaya pada kekuatan impian.

Adalah Elainne, Lahang, Tara dan Rene manusia-manusia yang berjuang bersama mewujudkan impian mereka masing-masing.


Tara, gadis berjilbab yang memiliki gangguan pendengaran tingkat berat. Ia harus menggunakan alat bantu pendengaran. Sebuah kecelakaanlah yang menghilangkan suara dari hidupnya. Juga merenggut hidup ayahnya. Setelah kejadian itu, Ibu Tara harus melanjutkan kuliah ke luar negeri, meninggalkan Tara. Tara harus diasuh opa dan omanya di Bontang. Demi keinginan sang Ibu, Tara meneruskan hidupnya tanpa kehadiran ibunya. Tara cenderung temperamen dan menjadi penyendiri sejak ayahnya meninggal. Rasa bersalah menghantui dirinya, mengira ia adalah penyebab kecelakaan ayahnya.

Elaine, gadis blasteran Jepang yang besar di Jakarta mendadak harus merelakan dirinya pindah sekolah. Ia pindah ke Bontang karena ayahnya pindah dinas. Ayahnya, Josuke, seorang  lelaki asli Jepang yang merupakan insinyur kimia, ditugaskan memimpin sebuah departemen di sebuah perusahaan besar di Bontang. Elaine meninggalkan segala yang selama ini sangat berarti baginya, termasuk teman-teman yang mendukungnya ikut marching band. Elaine dididik untuk menjadi sesuai apa yang diinginkan Josuke ; keras, disipin, tegas. Tak terbayangkan bagi Elaine, di Bontang ia justru mengalami pertentangan dengan Ayahnya karena ia tak diijinkan ikut marching band, eskul pilihannya. Satu-satunya yang membuat Josuke membolehkan Elaine ikut marching band jika Elaine bisa mendapat nilai minimal 95.

Lahang, seorang anak keturunan Dayak. Ia mempunyai impian yang sangat besar untuk bisa menaklukkan monas. Baginya, Monas adalah sebuah tugu yang mengingatkan impiannya dengan almarhum ibunya. Ayahnya sakit parah, dari diagnosa doter sakit kanker otak, membuat Lahang kesulitan untuk mengobati ayahnya. Ia tak punya biaya, hingga akhirnya ia menyerahkan pemeliath untuk membantunya menyembuhkan ayahnya, dengan pengobatan tradisional ala suku dayak. Lahang tak kuasa untuk memilih. Antara memburu mimpinya bertanding di GPMB atau harus merawat sang ayah yang bertambah parah sakitnya.


Anak-anak menakjubkan itu lahir dari berbagai latar belakang.  Tak ada yang pernah menyangka keputusan untuk masuk dalam sebuah tim marching band akan membuat hidup mereka berubah. Sebuah awal yang menjadikan impian mereka tinggi melangit melintasi tugu monas. Menembus segala batasan yang selama ini mereka alami, memecah keyakinan mereka bahwa hanya anak Jakarta yang bisa berprestasi.

Dari hambatan jadwal yang padat, berat dan keras, Elaine, Tara, dan Lahang tetap berusaha meraih mimpi mereka sambil mengatasi rumitnya masalah kehidupannya masing-masing. Rene yang keras kepala membuat anak-anak harus berusaha yakin dengan kemampuan diri. Akankah kegigihan dan perjuangan, grup Marching Band ini berhasil memenangkan kompetisi tingkat nasional?

Buku ini berkisah tentang perjuangan, kerja keras, impian, kerja tim, pantang menyerah, pantang mengeluh, keteguhan hati untuk tetap percaya pada impian. Beberapa istilah agak asing saya dengar, seperti legatto, cadet band, battery, dll tapi ada penjelasannya di halaman glosarium. Penulis menguasai tema tentang marching band ini. Salah satu yang saya suka adalah kecepatan perpindahan konflik dari satu tokoh ke tokoh lainnya tetap tak mengurangi fokus penulis membahasakan suara hati tokoh-tokohnya. Wajar karena buku ini memang adaptasi dari skenario film jadi serasa melihat scene film yang diputar di depan mata.

Tokoh-tokoh dalam novel ini serasa nyata menyuarakan sebuah harapan. Apapun impianmu, jika kamu berniat untuk menjadikannya nyata, tak ada alasan untuk mundur ataupun putar arah!. Hambatan tak semestinya menjadi kendala yang berarti. Ia seharusnya menjadi cambuk agar menjadi lebih keras menempa diri. Kesulitan bahkan sebesar apapun akan bisa dilalui dengan fokus pada solusi. Kekuatan tim yang dibangun solid oleh Rene mengingatkan saya akan ucapannya, tak ada tim yang bisa menjadi hebat tanpa anggota tim. Bagaimana bisa menjadi tim yang hebat jika hilir mudik pergantian anggota begitu membuat risau hati Rene?

Rene yang berusaha untuk membenahi tim yang kurang di sana sini, harus menahan diri untuk tidak marah dan menurunkan egonya. Sebagai pelatih, Rene harus bisa mengendalikan timnya menjadi apa yang ia mau. Sebuah perjuangan yang tak mudah untuk membawa seratus dua puluh orang menjadi satu visi dan satu misi dengannya. Bahkan Rene mau untuk bersusah payah mengunjungi satu per satu anak didiknya jika mereka tidak datang. Seperti  membujuk Tara, menemui ayah Lahang yang sakit. Ia yang langsung turun tangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Juga menawarkan bantuan untuk membawa ke rumah sakit. Padahal rumah Lahang terpencil, sampai ia mengalami kecelakaan terperosok ke dalam lubang dan kena sengatan lintah darat. Rene memilih bergegas mengambil solusi terbaik daripada hanya menggerutu karena jika tidak, tim yang ia didik akan kehilangan keseimbangan komposisi tim dan lagu.

Rene bahkan membuat lima plan solusi saat tau Elaine dilarang ikut latihan. Menelfon Elaine, menemui ayahnya, bernegosiasi dengan ibunya, sampai rencana paling mustahil sekalipun, mengajak Ronny untuk menggantikan Elaine, padahal dia sedang cedera kaki dan duduk di kursi roda. Padahal Elaine adalah Field Commander, pemimpin tim alias dirijen. Apa yang akan terjadi jika tim tanpa field commander yang mumpuni? Gemetar saya menyaksikan Ronny yang mendukung Rene agar tetap tenang, Ronny dengan kursi rodanya berucap “Mark! Time! Mark! And!”. Ia tetap bersedia bermain meski sakit.

Tak ada kata instan untuk mendapatkan sebuah impian. Sebuah perjuangan yang tak mudah untuk mewujudkan 12 menit yang menakjubkan. Merayakan 12 menit yang paling berkesan. Part yang saya suka adalah saat dimana Rene mengajak anak-anak didiknya untuk membayangkan, memvisualisasikan diri mereka saat akan bertanding. Karena pemenang akan mendapatkan impiannya dimulai dari memvisualisasikan kemenangan itu.

Think Like A Champion, And Fight Like One! (halaman 305)

Support yang diucapkan Rene membuat saya membayangkan menjadi bagian tim yang bertanding.
“Ribuan jam kita perjuangkan, demi dua belas menit ini. Demi orang-orang yang sekarang duduk di sebelah kita. Tataplah mereka. Dan, katakan pada mereka, bahwa mereka bisa bergantung padamu. Sadarilah bahwa perjuanganmu tak akan berhasil tanpa kehadiran mereka. Berterimakasihlah, karena dengan hadirnya mereka, impianmu bisa terwujud.  Dengan hadirnya mereka, dengan hadirnya kita semua di sini... kita... sudah... menang.”
“Rayakan dua belas menit terbaik dalam hidupmu ini. Bersenang-senanglah dan berpestalah karena  dua belas menit ini adalah milikmu.”
Bayangkan ada puluhan ribu jam yang harus dikorbankan untuk sebuah atraksi selama 12 menit. Hanya 12 menit. Dan jika kamu percaya pada kemampuanmu, kamu akan meraih impianmu! Because, dreaming is believing, Vincero!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit Nourabooks

3 comments:

  1. penuh inspirasi ya mba novelnya..semoga menang ya mba..semangat!!Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba. apalagi perjuangannya itu buat sampe monas bener-bener harus berkorban banyak. dan pas menang, kerasaaa banget. inspiratif. penasaran nunggu filmnya tayang, hehe

      Delete
  2. ooh ini judul buku yang sempat idposting pakde

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)