Friday, 25 October 2013

"Kruwelisme" dalam Sastra Modern

Dulu, beberapa tahun lalu, seorang teman pernah menyodorkan buku sastra padaku. 

"Baca deh, La. Bagus.", ucapnya.

Kulihat judulnya kumpulan cerpen kompas. Kubolak-balik lembaran demi lembaran buku itu. Agak bingung membacanya dan aku ga mudeng. Wkeke. 

Hmm, mungkin karena otakku ga nyampe sana kali ya. Pesannya terlalu dalam dan ya... bahasanya terlalu ajaib. 


Tadi ada bahasan di grup nulis tentang siapa pemenang lomba LMCR Rohto. Dan bahasanya emang ajaib itu. :D Kalo pinjem istilah temen, "kruwelisme",  ya maksudnya penuh dengan istilah-istilah aneh yang susah dipahami orang awam. Bagi sebagian besar orang yang menulis sastra di jaman sekarang, sastra diidentikkan dengan bahasa yang susah dimengerti. Ada teman yang menyarankan, kalo pengen nulis yang susah-susah gitu harus pegang KBBI, dicari padanan kata yang belum pernah muncul dalam percakapan sehari-hari. Buatku sastra itu ya memang ajaib. Dulu pernah baca tulisannya Arini Haridjati aja aku bengong. Kok ya bisa bikin diksi begini. Nambah lagi ketemu Herlinatiens, meski bahasanya tak sesulit orang lain. Masih masuk sastra sepertinya. Untuk cerpen dan puisi ada beberapa nama yang dikenalkan temanku itu padaku seperti Pablo Neruda, Aan Mansur, dll. Dan setiap aku pengen nulis cerpen atau puisi yang agak nyastra, aku pegang bukunya, baca-baca lagi. 

Tapi, rasanya sastra tak melulu harus beraroma "kruwelisme" kan ya? :D 

Jujur, aku lebih suka diksi yang sederhana asal ngena aja padanan katanya menjadi sebuah aliran yang menghipnotisku untuk menyelesaikannya sampai tuntas, dibandingkan harus berkruwelisme. :P

Nah, kalau kamu? Pernah baca buku sastra yang seperti apa?

6 comments:

  1. hobi dan kewajiban, karena dulu kuliah di jurusan sastra inggris :)
    sebenarnya gak susah susah amat kok kalau kumpulan cerpen kompas, yaa emang pembacanya dituntut untuk mikir lebih dalam..
    efek dari sering baca buku2 itu: gampang nebak ending sebuah film atau novel teen-lit / chick-lit
    *salaman sesama anggota baw :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, salaman balik. ;)
      kalo teenlit sama chicklit beda jaaauuhh, mba :D
      iya, kalo buku cerpen kompas maknanya yang dalem itu yang bikin mikir lama. butuh waktu untuk serius baca sampe kelar. temenku yang nawarin buku itu kan anak komunikasi yang emang ada bahasan sastra di skripsinya, ga mudeng akunya walo dipinjemin. haha. :D

      Delete
  2. udah baca tetralogi pulau buru (Pramoedya) ? keren banget

    ReplyDelete
  3. Melihat jurinya, ada Ahmadun Y Herfanda di sana. Doi kan basic-nya penyair La, jadi wajarlah bila seleranya cenderung pada cerpen yang puitis dan mendayakan eksplorasi bahasa--walaupun dengan risiko tak bisa ditangkapnya makan oleh pembaca awam. Tahun-tahun lalu pun saya pernah baca cerpen yang menang juga karya yang eksperimental atau nyastra banget. Kalau Femina dan Kartini, atau Sekar, tentu beda lagi seleranya. So, tetaplah menulis dan menginspirasi pembaca. Dengan atau tanpa kruwelisme--kalo memang istilah itu ada. :)

    ReplyDelete
  4. Bahasa sastra memang kadang harus dipahami pakai otak lebih mbk . . . . . kalau Aida baca sastra tuh, satu halaman bisa nyampe 5 menit . . . .

    ReplyDelete
  5. karyanya k aan mansyur keren-keren mbak ila. mudah kumengerti malah

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)