Quote of The Day

Selepas musim yang berganti, cara terbaik untuk memudahkan syukurmu terlantun adalah dengan menyederhanakan harapanmu hari ini.

Thursday, 16 July 2020

[Tips Parenting] Cara Orang tua Mengatasi Over mood dan Burn out Parenting

Question & Answer : 

Bagaimana cara orang tua mengenali over mood maupun burn out? 

Banyak orangtua yang juga mengalami burn out dan over mood karena orang tua seperti mama merasa harus selalu sempurna dan bisa menyelesaikan semua masalah.



Dalam sebuah penelitian ada hasil yang mengatakan bahwa 36% orang tua mengalami parental burn out. Yang mengalami burn out bukan hanya Mama tapi juga Papa. Tapi tenang saja karena burn out ini gejalanya pernah kita alami dan rasakan. Tapi yang terpenting orang tua sadar dulu ciri-ciri parenting burn out. 



Ciri-ciri Burn Out Parenting : 


Kenali ciri-ciri parental burn out / burn out parenting terlebih dahulu ya. Karena percuma tahu tipsnya tapi tidak tahu ciri-ciri burn out. Yuk disimak ya! 

1. Gampang banget meledak emosinya


Ketika Mama Papa merasa kok gampang banget meledak, itu salah satu ciri burn out. 

"Kok yang tantrum bukan anaknya, tapi malah mamanya yang tantrum?"

Nah harus diperhatikan ya. 

2. Ada perasaan ingin menghilang


Ada perasaan ingin menghilang yang dirasakan oleh orang tua saat mengalami burn out

"Aduh, bisa nggak sih dua tiga hari aku kabur. Anak-anak terserah dititipin sama siapa deh."

Nah, ini ciri-ciri burn out yang dialami orang tua. 

3. Pikiran Melayang ke Hal Lain saat Bersama Anak


Saat bersama anak, orang tua kehilangan fokus merupakan salah satu ciri burn out.

Misal : ketika sedang bermain, pikiran kita seperti autopilot. Jadi tidak pada tempatnya, tidak mindfullness. "Oh, waktunya anak mandi, ayo mandi, waktunya main, ayo main." Tapi kita nggak hadir sepenuhnya di sana. Pikiran dan badan nggak sinkron karena kita memikirkan hal lain. Jadi nggak efektif juga pada hal yang dikerjakan. 


Cara Mengatasi Burn Out Parenting :


1. Memenuhi tangki cinta terlebih dahulu sebelum memberi

"You cant give if you dont have."

Jadi orang tua nggak akan bisa memberi anak-anak cinta, kasih sayang, merawat mereka, atau menjalin attachment dengan mereka kalau di dirinya sendiri juga nggak ada rasa cinta dan kasih sayang. 

Gimana kita bisa mengelus-elus anak kalau di diri kita tangki cintanya juga kosong? Kalau kita bayangkan di diri kita ada bank gitu, kita mau setor ke anak. Saldo apa yang mau disetor kalau saldo di bank kita juga kosong? Maka yang perlu dilakukan adalah sadari dulu saldo bank cinta kita ada isinya atau nggak. 

Orang tua jangan ngasih cinta dan kasih sayang terus. Karena kita juga perlu memenuhi tangki cinta kita sendiri sebelum memberi.

2. Mengenali Kebutuhan Self Care untuk Diri Sendiri


Kita perlu tahu setoran apa yang bisa kita kasih ke diri kita sebagai bentuk self care. Nah, self care sudah digaungkan di mana-mana ya. 

Self care bukan hanya masalah waktu me time. Karena banyak nih klien Mb Pritta yang bilang, "Mau disisihkan waktu dari mana lagi untuk self care? Kayaknya udah nggak ada waktu lagi yang tersisa." Padahal, bukan soal kuantitas waktu, tapi ketepatan orang tua memilih self care untuk dirinya sendiri. 

Ada berbagai macam self care bagi orang tua antara lain : 


1. Mengisi bank cinta dengan penuh


Mengisi bank cinta dengan penuh. Misalnya : ada yang tangki cintanya dengan makanan enak. Kalau udah makan makanan yang enak dengan suasana yang tenang pas anak udah tidur, mama ngerasa tangki cintanya udah penuh lagi. 

Atau menjalani hari tanpa planning di hari sabtu atau minggu, misalnya nggak usah masak. Kalau Senin sampai Jumat udah terjadwal planningnya. 

"Oh, oke kalau Sabtu sama Minggu lebih santai." 

Atau dengan tidur yang cukup. Bersosialisasi lewat virtual bersama sahabat atau teman. Caranya masing-masing tapi yang penting bisa mengurangi kebosanan karena terlalu lama mengurus anak seharian. 

2. Mengurangi kadar perfect parent dengan set prioritas keluarga


"Ketika orang tua ingin menjadi perfect parent, di situlah titik dia sedang menumbuhkan burn out di dirinya sendiri."

Ada banyak peran orang tua di rumah, maka kita harus mengatur skala prioritas. Nggak bisa semua hal kita pengin perfect, misalnya ngajar anak sesuai panduan sekolahnya. Atau orang tua ngajari anak harus perfect, ngurus karier harus perfect, rumah harus kinclong terus, dll. 

Nah, nggak semua hal kita harus perfect. Kita harus sepakati antara Mama dan Papa saat mengatur prioritas. Penginnya di rumah kita apa yang jadi prioritas?

Misal : prioritas asupan nutrisi si kecil. Maka dalam sehari ada set makanan yang disajikan dengan gizi yang mencukupi kebutuhan anak. 

Nah, untuk less priority yang seperti apa? Misalnya : kebersihan. Anak boleh bermain di rumah. Ya udah kalau saat bermain anak meninggalkan tumpahan coklat, tumpahan susu, sereal dll. Sisa makanan yang tertinggal di lantai atau meja makannya, itu nggak papa. Dibersihinnya nanti, gpp. 

Intinya adalah hal ini dilakukan untuk menghindari burn out karena orang tua terlalu ingin sempurna sehingga saat bersama anak sudah lelah. 

Tinggalkanlah keinginan untuk jadi perfect parent. Sebagai orang tua yang maunya apa-apa serba perfect, orang tua perlu mengurangi kadar perfect ini. Agar ia tidak stress sendiri nantinya. 

"Saya bisa mengerjakan sendiri dan saya bisa semuanya sendiri."

Inilah salah satu kalimat yang menunjukkan perfect parent yang perlu dikurangi intensitasnya. 

Ingin terlihat sempurna membuat orang tua tidak bisa menarik nafas walau sejenak. Padahal burn out akan menyebabkan orang tua mudah blamming ketika ada kesalahan kecil yang dilakukan anak. 

Kalau kadar diri kita nggak mencukupi, maka burn out itu akan muncul lebih cepat. Pastikan saat kita fleksibel atau mengurangi kadar perfect, maka hal itu tidak menimbulkan stress yang baru. Orang tua juga bisa berbagi tugas di rumah agar tidak cepat lelah dan stress.

Misal : memberikan screen time sebagai kompensasi anak di rumah saja. Padahal screen time ini akan membuat anak lebih sulit fokus dan lebih rewel karena kurang aktivitas fisik. 

Nah, begitu ya. Semoga bermanfaat. ;)

***

Baca Part 1 



Lanjut ke part 3


1 comment:

  1. memang emosi perempuan itu naik turun makanya hrs bisa kontrol banget

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)