Quote of The Day

Selepas musim yang berganti, cara terbaik untuk memudahkan syukurmu terlantun adalah dengan menyederhanakan harapanmu hari ini.

Thursday, 16 July 2020

[Tips Parenting] Menjadi Orangtua Resillient Bersama School of Parenting

🌸 Menjadi Orangtua Resilient bersama School of Parenting πŸŒΈ

πŸ‘€ Host : Tasya Kamila
πŸ‘₯ Pembicara : Pritta Tyas Mangestuti,M.Psi



πŸ’Œ Acara bisa dilihat di




πŸŒΈπŸŒ΄πŸπŸƒπŸπŸŒ΄πŸŒΈ


Arrasya, anak Tasya Kamila dan Randi berusia 1 tahun. Saat ini Arrasya sedang masanya asyiknya bermain dan belum masuk sekolah. Arrasya main terus setiap hari bersama keluarga. Walau belum bisa ke mana-mana, karena masa transisi tapi Tasya Kamila akhirnya menemukan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga. 

Saat ini Tasya Kamila dan Randi punya banyak peran di rumah. Mulai dari teman main Arrasya, mendongeng juga, sebagai guru juga, sebagai orangtua yang menjadi pelindung dan juga memberi kasih sayang terbesar bagi Arasya. 

Saat ini perubahan yang lumayan menantang bagi Tasya Kamila dan Randi ya. Nah, pastinya ada masanya pasangan merasa jenuh ataupun mungkin kehabisan ide main bareng si kecil atau ngajarin metode belajar bareng si kecil. Bisa jadi me time orang tua juga sangat berkurang, sementara di sisi lain orang tua memiliki keterbatasan untuk stress release karena nggak bisa berkumpul sama teman ataupun jalan-jalan seperti biasanya.

Nah, supaya mama papa tetap bisa beraktivitas dengan gembira dan menumbuhkan suasana yang positif, mari kita cari solusinya supaya suasananya juga makin positif ya! 😊

Kita cari solusinya bersama Mbak Pritta Tyas Mangestuti,M.Psi, seorang Ekspert/Psikolog Anak dan Keluarga yang merupakan pendiri School of Parenting. School of Parenting adalah sebuah platform digital yang memberikan edukasi parenting di Indonesia agar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Wow, keren banget, kan? πŸ˜‰

🌼🌼🌼

Tema Zoom Webinar kali ini adalah Menjadi Orang tua yang Resillient.


Kita pasti pernah tahu peribahasa yang sering didengar yaitu buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu juga dengan karakter si kecil. Apabila orang tuanya memiliki karakter resillient dan memberikan life eksposure sedari dini, tentu karakter resillient si kecil juga akan semakin terasah. 

Membesarkan anak dengan karakteristik resillient bukan berarti kita memaksakan supaya dia menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Tapi, peran orangtua di sini adalah mendampinginya ketika si kecil bertemu tantangan dan gagal, namun ia memiliki semangat untuk bangkit dan coba kembali. 

Tak hanya itu, anak dengan karakteristik resillient juga berani memulai diskusi dengan orang lain, berani memilih risiko yang tepat dan semakin memperkaya pengalamannya. Jadi kita tak bertujuan untuk menjadikan dia sesuatu yang bukan dirinya, tapi agar anak bisa memiliki karakter yang tangguh dan dapat menghadapi berbagai tantangan.

Jadi penting banget bagi kita sebagai orang tua harus memiliki karakter resillient supaya bisa membekali, mendidik dan membesarkan si kecil, supaya dia juga bisa menjadi resillientl dalam menghadapi tantangan dan masa depan.

Gimana cara pendekatan yang baik untuk kita sebagai orang tua memiliki karakter yang resillient dan juga bisa membekali si kecil untuk menjadi resillient? 

Nah, jadi seperti yang Tasya katakan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya", jadi kalau kita mau menumbuhkan anak yang resillient, modal pertama yang mesti kita punya adalah menjadi orang tua yang resillient. Berarti kita harus punya kemampuan mengatasi kesulitan dan kemampuan fleksibilitas untuk bisa menghadapi perubahan, terutama di era New Normal seperti saat ini. 




🌸 Tips Menjadi Orang Tua yang Resillient : 


1. Sadari dan Tahu Batas Kemampuan Sebagai Orang tua


Untuk menjadi orang tua yang resillient, langkah yang pertama adalah kita sadar dulu dan tahu dulu batas kemampuan kita sebagai orang tua.

Adanya kondisi new normal,  banyak tuntutan, peran dan perubahan yang diterima orang tua dan tidak bisa semuanya dipenuhi dengan harus semuanya optimal. 

Kita harus sadar dulu batasan sebagai orang tua, termasuk peran orang tua saat harus mendampingi anak dalam School from home.

Jadi kita juga dituntut untuk bisa menjadi fleksibel dan adaptif, tapi kita juga harus menyadari kemampuan dan batasan kita sebagai orang tua. Nah, penting banget menjadi orangtua yang memiliki karakter resillient, kan?

Sadari dan tahu batasan kemampuan
 sebagai orang tua


πŸ’Œ πŸ‘₯ : Bagaimana ciri karakter resilient dan bagaimana cara membekali si kecil supaya bisa menjadi resillient? 


Nah, tadi sudah disinggung nih mengenai masalah school from home. Banyak orang tua yang anaknya school from home. Tidak hanya satu anak yang belajar dari rumah, tapi dua atau tiga anak sekaligus. Dengan keadaan sekarang ini sampai sejauh apa sih peran orang tua untuk membantu si kecil?

Menurut mb Pritta, ada teknik/urutan yang bagus dari American Psycological Association (APA) di Amerika Serikat yang bisa dicontoh.  

Ada satu hal yang harus dibentuk keluarga atau orang tua dan anak-anak adalah struktur di dalam keluarga. Kejelasan struktur di dalam keluarga ini bisa membuat anak merasa aman, nyaman dan mengurangi kebingungan yang terjadi, karena perpindahan dari aktivitas di dalam ruangan bersama pendamping yang lain dan sekarang harus di rumah.

🌸 Ada 7 cara untuk bisa mengcreate structure di dalam keluarga : 



1. Mengembangkan 1 rutinitas harian yang konsisten di rumah untuk anak-anak dan orang tua.


Yang pertama adalah kita harus mengembangkan 1 rutinitas yang pasti dan konsisten di rumah setiap harinya. Bukan hanya untuk anak-anak, tapi rutinitas untuk orang tua juga.

Misalnya, jika anak sudah usia 3 tahun atau 4 tahun dan sudah mengikuti program school from home, maka harus jelas dan harus terprediksi dengan anak rutinitas apa yang harus jalani setiap harinya. 

Merancang rutinitas yang konsisten untuk anak


Contoh : setelah anak bangun pagi, dia akan mandi dulu, baru makan. Nanti jam 9 hingga 11, anak beraktivitas sebagai bahan pengganti School from Home. Lalu setelah itu dia boleh lari-lari kegiatan yang mengaktifkan gerak dan motorik kasarnya. Setelah itu anak bisa makan siang, lalu istirahat, dst.


Kegiatan rutinitas ini harus dicreate yang pasti dan konsisten karena anak di usia dini sedang berada di periode sensitif keteraturan. Dia sangat terganggu apabila rutinitas itu tidak konsisten. 

Misal hari ini orang tua memberinya waktu untuk school from home setelah makan pagi. Namun besoknya karena orang tua sibuk work from home, maka anak diberikan waktu untuk screen time (menonton program tv anak/youtube channel for kids). Hal ini membuat anak akan kebingungan dengan rutinitas yang harus dijalani setiap hari. 


2. Kesepakatan Aturan dalam Rumah antara Orang tua dan Anak


Pastikan orang tua sepakat peraturan apa saja yang berlaku, atau harapan apa yang orang tua tetapkan ke anak sehingga anak tahu aturan tersebut. 

Anak usia dini (1-5 tahun) masih dalam masa pembentukan rutinitas. Misal, setelah beraktivitas di rumah, barang mainan atau buku yang sudah dibaca harus dikembalikan seperti semula. 

Maka, orang tua harus membuat set aturan yang berlaku. Misal : kalau kamu yang bermain maka kamu yang harus mengembalikan mainan tersebut ke kotak asalnya. 

Kesepakatan aturan dengan anak


Orang tua harus mengomunikasikan ke anak. Oke, kalau kamu selesai bermain harus kamu yang mengembalikan. Kalau anak menolak, orang tua boleh menemani anak saat membereskan mainan tersebut secara bersama-sama. 

"Mama mengembalikan balok yang merah, kamu mengembalikan balok yang kuning ya."

Namun jika usia anak sudah 3 tahun, orang tua berusaha agar anak bisa belajar berproses mengembalikan mainan tersebut sendirian, sehingga terbentuk rutinitas baru sesuai aturan yang ditetapkan orang tua pada anak. Tujuannya untuk melatih kemandirian anak.

3. Konsisten menerapkan aturan dalam rumah yang sudah disepakati orang tua


Saat menentukan aturan di rumah, orang tua baik mama dan papa harus sepakat terlebih dahulu sebelum menerapkan aturan tersebut pada anak. Jadi anak tidak bingung harus ikut aturan yang mana. Anak harus paham bahwa ini bukan aturan mama atau aturan papa, tapi peraturan keluarga.

Apapun peraturan yang ditetapkan harus dimaintenance konsistensinya. Konsistensi ini bukan berarti jamnya harus saklek ya. Misal : jam makan pagi pukul 7 teng, apalagi untuk anak-anak di bawah 3 tahun, ritme tubuh anak belum teratur alias masih berubah-ubah. Dari segi jam mundur dikit gpp, ada fleksibilitas. 

Nah, yang penting konsistensi rutinitas yang akan dilakukan dalam satu hari itu dilakukan secara berurutan. Misal habis mandi, makan pagi, beraktivitas, dll. Jadi anak bisa tahu setelah aktivitas ini, dia akan melakukan aktivitas apa. 

Jangan sampai papa/ mama tidak konsisten saat anak kelaparan, dia memberi waktu anak untuk makan dulu sebelum mandi. Karena ketidakteraturan ini akan membuat anak tidak bisa teratur nantinya.

4. Memenuhi tangki cinta anak dengan hal-hal yang dia cintai dan membuatnya nyaman dan hangat saat berelasi dengan orang tua


Mengapa anak mau melakukan hal-hal yang diajarkan oleh orang tua? Alasannya karena tangki cintanya penuh. 

Bagaimana cara agar tangki cinta anak penuh?
Berikan relasi yang hangat pada anak. Karena tangki cinta anak yang penuh juga merupakan bekal jadi anak tangguh. 

5. Orang tua perlu sering menggali emosi anak untuk memvalidasi emosi yang dirasakannya


School from home bisa berpotensi untuk membuat anak cemas. Misalnya: ada virtual class bersama teman-teman, padahal dia lagi nggak mood untuk duduk di depan laptop. Jadi dia mulai cemas. 

Atau kalau di sekolah kan enak karena lingkungan di sekolah itu sudah di-setting tidak banyak distraks dani isinya semangat belajar. Nah, tapi kalau di rumah, anak belajar di dekat kulkas, ada adiknya lewat-lewat sambil bawa mainan, atau mamanya sibuk masak di dekatnya. Jadi dia bisa terdistraksi, karena tidak mudah untuk belajar online di rumah. Kita perlu untuk memahami hal tersebut, karena itulah orang tua perlu sering menggali emosi anak.  


Gali emosi yang dirasakan anak
 untuk memvalidasi emosinya

Orang tua perlu sering untuk talk about emotion with kids. Agar anak tahu bahwa ia sedang mengalami emosi tersebut.

Misalnya : dia lagi sebel atau lagi nggak mau ngerjain sesuatu, kita validasi emosinya. 

"Kamu kesel ya karena ngerjain ini nggak bisa-bisa?" 

atau 

"Kamu bosan ya pengen main di luar?"

Jadi kalau dia menunjukkan tanda-tanda burn out, misalnya dia bosan atau kesal, jangan malah dibilang "Udahlah masa kayak gitu aja nggak bisa" atau "Udah selesaiin dulu, habis itu baru main", tapi kita perlu validasi emosinya.

🌼🌼🌼

Manfaat menggali emosi anak agar anak bisa mengenali emosi dan mencari solusinya :


Saat anak berusia di bawah 4 tahun, mereka masih punya keterbatasan mengenali apa saja emosi yang dirasakan. Dia belum bisa melabeli emosi tersebut dengan nama emosinya. Misal : marah, kesal, sedih, dll.

Misal : ada anak-anak yang tadinya asik main dan focus, terus tiba-tiba mainannya jadi berantakan atau dilempar-lemparin.

Nah, ada sesuatu yang sebenarnya dia rasakan tapi dia masih punya keterbatasan untuk ngomong. 

"Ma, aku bosen. Ma, aku nggak seneng. Ma, aku sedih."

Anak punya keterbatasan melabeli emosinya, maka orang tua perlu membantu.

"Oh, ini loh nak, waktu kamu lagi kayak gini namanya bosan. Kamu lagi lempar-lempar barang itu namanya kesel."

🌼🌼🌼

Tujuan validasi emosi anak adalah agar anak tahu nama emosinya adalah marah, kesal, sedih, dll. Nah ketika si kecil sudah bisa tahu, "Oh ini namanya emosi marah." Setelah itu, kita berikan cara mengatasi emosinya.

Misal :  

"Kalau kamu kesel, sampaikan ke Mama ya.  
"Aku kesal, Ma."

Kamu tepuk tangan Mama, supaya Mama tahu kamu sedang kesal. Atau saat anak sedang marah kita bisa berikan cara solusinya baiknya seperti apa."

🌼🌼🌼

Nah, anak bisa mengekspresikan emosi secara sehat menurut mb Pritta adalah satu modal dasar untuk anak bisa tangguh. Karena tangguh artinya bisa melewati peristiwa-peristiwa yang nggak menyenangkan. 

Peristiwa yang nggak enak buat anak itu, misalnya apa sih? 

Misalnya, anak lagi pengen main sepeda di luar tapi Mama panggil suruh ngerjain pr-nya, atau Mama panggil untuk suruh makan, itu kan simpel, tapi itu nggak enak buat anak. 

Ketika dia bisa mengkomunikasikan yang dia rasakan, maka itulah tahap pertama untuk anak bisa menjadi tangguh dengan menyelesaikan peristiwa negatif itu

6. Validasi emosi dapat membentuk kontrol diri pada anak


Validasi emosi juga bertujuan untuk mengontrol diri. Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol emosi dan perilaku kita yaitu : 

1. Kontrol emosi orang tua dan anak

Kontrol emosi orang tua atau anak dengan cara apa? Misalnya anak marah, orang tua perlu memvalidasi emosinya dan memberi tahu kalau marah sebaiknya bilang ya. Tujuannya untuk mengontrol emosi atau meregulasi emosi. 

Jika orang tua mengajak anak untuk mengenali emosinya, berarti orang tua juga harus mencontohkan hal yang sama. Saat orang tua sedang marah, mereka juga harus menyampaikan dengan baik-baik juga pada anak. Karena anak akan meniru apa yang orang tua contohnya dalam perilaku sehari-hari. 


Validasi emosi anak
dapat membentuk kontrol diri anak


2. Kontrol perilaku anak agar ia bisa mengerem emosi dan perilakunya

Nah, mengontrol perilaku anak juga dimulai dari orang tua yang mengajarkannya.

Apakah orang tua pernah menjumpai saat anak-anak melakukan hal-hal yang impulsif? Misalnya anak ingin melakukan sesuatu, lalu dia harus melakukannya saat itu juga. Keinginannya harus dituruti. Maka orang tua perlu melatih anak agar mengontrol perilakunya. 

Cara mengontrolnya dengan permainan. 

Misalnya : anak diajari bermain lampu lalu lintas (merah, kuning, hijau). Saat hijau boleh jalan. Saat merah berhenti. Saat kuning bersiap-siap untuk berhIenti.

Nah, anak akan belajar untuk mengontrol dirinya atau self control. Hal ini akan penting untuk menunjang berlangsungnya school from home. 

7. Orang tua melatih anak untuk memecahkan masalahnya sendiri


Orang tua ingin membentuk anak yang resillient agar anak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Jadi nggak dikit-dikit tanya papa mama "ini udah bener belum?", atau minta tolong mamanya untuk menyelesaikan masalah. Anak akan punya rasa percaya diri untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri. Nah, sikap mandiri ini bisa dibentuk saat menemani anak-anak school from home. 


Anak belajar mengatasi masalah secara mandiri


Caranya menumbuhkan kemandirian ini adalah dengan membiarkan anak melakukan aktivitasnya sendiri. Tanpa dibantu orang tua. Jangan buru-buru menginterupsi. 

Contoh menginterupsi :  "Oh, yang ini mewarnainya masih kurang bener nih", atau "Yang ini belum masuk garis nih". 

Jangan buru-buru menginterupsi dan jangan buru-buru membantu ketika anak mengalami kesulitan. 

Contoh : 

Saat orang tua melihat anaknya berusia 3 tahun akan mengambil sesuatu di rak yang agak tinggi dari jangkauannya, jangan buru-buru bantu mengambilkan atau menawari bantuan ya. Tapi orang tua amati dulu cara anak menyelesaikan masalahnya. Apa yang akan dia lakukan supaya dia bisa mengambil itu? 

Nah, kadang kalau orangtua tidak buru-buru menawarkan bantuan, anak bisa kok mengambil kursi dan menaruh di depan rak, lalu dia manjat dari situ. Dia bisa ambil sendiri barang tersebut. 

Selain mengajarkan kemandirian dan tangguh pada anak, anak juga akan belajar untuk mencari tahu agar ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

School from home bukan hanya tantangan untuk anak tapi juga tantangan untuk orang tua. Karena banyak orangtua yang juga masih bekerja dari rumah. Sementara itu juga masih harus mengawasi anak. Selain itu juga masih harus menyiapkan berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Mulai dari masak, beberes, dan lain-lain.

***

No comments:

Post a comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)