Monday, 26 May 2014

[Sharing] Benarkah Anak Umur 0-7 adalah Raja?

Dapet dari Miftahul Hidayah. Share aja, barangkali ada yang butuh. Buat yang belum jadi ortu juga bisa buat belajar. Bacanya dalam kondisi rileks ya, agak ada aroma emosi. :)

[Soal anak umur 0-7 adalah raja]

Beberapa minggu lalu dampingi Bu Elly ngasih pelatihan Displin dengan Kasih Sayang. Kita suka salah interpretasi dengan 7 tahun pertama anak adalah raja. Sehingga diturutin segala maunya. Enggak. Bukan gitu.

Definisi rajanya adalah dimuliakan dan dicintai. Dimuliakan adalah menciptakan self awareness supaya kelak hidup dan jiwanya mulia. Dicintai adalah cara menciptakan awareness itu dengan cinta, perilaku cinta. Cinta yang mana? Cinta dengan logika.

Saat umur dibawah 7, otak anak belum bersambungan pusat berpikirnya. Makanya ortu yang jadi pusat berpikir pengganti. Mengajari norma, mengajari nilai. Membuat anak tau do and don't yang harus ia jalani seumur hidupnya, and why? Kenapa do dan kenapa don't.

Kalo dijadikan raja yang diturutin segala maunya, inget aja kalo pengasuhan adalah wiring. Membentuk pola. Kalo anak nangis minta permen trus dikasih, kita lagi ngajarin anak untuk 'memaksa' kita dengan cara memanfaatkan ga teganya ortu. Misal, waktu kecil maksa minta permen trus nangis trus dikasih. Gedean lagi maksa minta sepeda trus ngambek trus dikasih. Lebih gede lagi maksa minta mobil trus kabur dari rumah trus ga tau deh dikasih atau enggak. Kasusnya udah banyak anak yang bunuh diri gara-gara ga dibeliin motor.

Balik lagi ke soal anak adalah raja, apakah dengan membiarkan anak melakukan segala hal atau memberikan semua yang disukainya adalah memuliakan anak? Belum tentu. Ortu yang kontrol karena yang otaknya udah bersambungan adalah ortu.

Bersyukur saya udah ikut siaware. Karena kalo kata Bu Elly kita susah dan capek banget selama ngurus anak, kalo kita ga kelar ama diri sendiri.

Kenapa harus kelar? Karena ada masanya kita capek, sehingga otak kebanjiran hormon kortisol alias hormon stress. Kalo udah kebanjiran ntar ga bisa kontrol diri. Emosi jadi dominan. Ga bisa mikir jernih. Apalagi kalo udah midlesence (35 thn ke atas), hormon-hormon utama lagi pada turun. Perubahan hormon ini bikin emosi kacau. Dua-duanya (suami istri) ketemu. Blast!

Kalo ga kelar ama diri sendiri. Rame terus rumah. Mukul, bentak, teriak, nyubit, ngancam. Semua 12 gaya populer keluar. Kalo kita tanya sama semua ortu, mereka semua pasti ga sengaja nyakitin anaknya. Itu udah otomatis aja karena emosi yang kacau ditambah wiring masa lalu yang belum kelar ama orang tua.

Waktu SMA, inget sistem syaraf terdiri dari sel syaraf (neuron). Neuron membentuk jaringan syaraf. Nah jaringan ini menyambungkan sel syaraf satu dengan yang lainnya. Sambungannya namanya sinaps. Berdasarkan penelitian neurosains modern, sinaps tadi yang mengatur proses keberlangsungan informasi yang ada diotak.

0-7 sinaps tumbuh di bagian pusat emosi (sistem limbik), anak umur segitu kebutuhannya adalah penerimaaan emosi
8-dst mulai bersambungan pusat berpikirnya (korteks). Tumbuh terus selama orang itu hidup
25-dst bersambungan sempurna dari pusat berpikir ke pusat norma dan nilai (prefrontal cortex). Bagian ini (PFC) hanya dimiliki manusia. Dan ini yang disasar kerusakannya oleh pebisnis pornografi. Adanya diatas alis kanan

Kalo pfc rusak bisa disembuhin ga?
Bisa dong. Kan otak sifatnya plastis.

Prinsipnya, otak kan ngolah banyak informasi. Informasi yang jarang banget dipake akan diancurin wiringnya (makanya kita jadi lupa ama hal-hal tertentu, terutama yang jarang kita pake dalam kehidupan). Dan akan terus bertambah sinaps dan wiring baru untuk informasi yang baru.

6 comments:

  1. Siang ini saya dapat ilmu penting berkaitan dengan jaringan saraf ini. Makasih banyak ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. perlakukan seperti Raja tapi harus ada batasanya jugalah kalau menurutku. Aku berprinsip kalau minta sesuatu dengan nangis tetep aja gak akan aku kasih kalau itu kurang baik

    ReplyDelete
  3. Sharing yg bermanfaat, Jeng.
    Gak nerapin raja2an ah. Yg normal2 dan biasa ajah. :)

    ReplyDelete
  4. Memang ortu sering kali serba salah ngadepin anak. Anak juga sering kali 'licik' memanfaatkan ketidaktegaan ortu :(

    ReplyDelete
  5. Setuju mbak Ila, < 7 tahun anak adalah raja. Raja yang kalau salah pun harus diingatkan. Bukan raja yang dituruti segala keinginannya tanpa terkecuali. TFS mbak, bermanfaat banget ;)

    ReplyDelete
  6. Bener banget mba dan makin kerasa setelah umur 3 th keatas, makin pinter nyari akal kalau lagi ada maunya dan kitanya juga harus lebih pinter cari akal buat ngasih tau baik dan buruk karena mereka taunya apa yg mereka mau ya harus dapet tanpa membedakan mana benar dan salah :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)