Quote of The Day

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebaikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Q.S. al-Ahqaf: 15)

Friday, 9 June 2017

Cara Menangkal Hoax dengan Cerdas

Cara Menangkal Hoax dengan Cerdas

A hoax is a deliberately fabricated falsehood made to masquerade as the truth.[1] It is distinguishable from errors in observation or judgment,[1] rumors, urban legends, pseudosciences, and April Fools' Day events that are passed along in good faith by believers or as jokes. [2] (sumber : Wikipedia)

Hoax? Apakah hoax itu? Menurut saya, hoax adalah berita yang nggak benar, menyebarkan fitnah dan kebohongan. Biasanya dilakukan oleh oknum, baik orang iseng ataupun terencana. Well ya, intinya sih, berita hoax ini berita yang kamu pertanyakan kebenarannya.

Masalahnya, kini orang mudah percaya begitu saja dengan berita yang beredar bahkan tanpa perlu crosscheck kebenaran tersebut. Asal ia merasa sesuai dengan nilai yang dipahami dirinya, ya, ia bakalan ngeshare berita hoax itu. Ngesharenya di mana? Di social media, baik fb, ig, youtube, web, bahkan sekarang ada juga yang dishare di grup-grup whatsapp berisi broadcast nggak jelas.

Awalnya saya sama sekali nggak mikirin soal berita hoax ini. Saya mikirnya toh orang udah cukup pintar untuk memercayai mana berita palsu dan mana berita yang benar. Masalahnya, hoax akan lebih mudah menyebar jika diberi peringatan semacam. “Like, share dan komen berita ini! Jangan berhenti di kamu biar semua orang tahu.” Yaelah. Wkwk. Kezel saya kalau dapat broadcast geje begitu di chat whatsapp.

Ndilalahnya kok ya, ibu saya baca chat di whatsapp semacam itu. Bacanya dari broadcast grup guru pula. ZzZzt. Fiuh, gimana ga kesel ya, kalo setiap hari ibu saya baca chat di grup itu karena nganggep bakalan ada info penting seputar dana BOS, laporan guru, akreditasi, persiapan ujian SD, dl. Eh tapi kok malah dapet beritanya yang nggak jelas gitu. Dan anehnya, ibu saya percaya aja gitu saja berita semacam itu. Udah kemakan hoax dong? Iyes. :( Jadi karena kesel itulah saya nulis artikel ini. Anggap aja curhatan random. Lol. :p

4 Cara Menangkal Hoax dengan Cerdas : 


1.       Baca berita perlahan

Di era digital yang serba cepat ini berita hoax mudah menyebar dan menimbulkan keresahan. Baca berita yang dishare di social media itu pelan-pelan aja ya. Jangan buru-buru apalagi sambil makan mendoan. Ntar keselek *lho :p Ya, baca pelan-pelan, dicerna dulu, baru deh ditanggapi dengan kepala dingin. :)

2. Milikilah Filter Diri dan Pilih-pilih Bacaan yang Cerdas


Saya rasa hoax berkembang pesat karena adanya social media. Orang butuh bacaan bagus tapi males beli buku. Akhirnya mereka hanya mengandalkan informasi yang gratis dari web dan social media untuk memenuhi kebutuhan mereka akan bacaan bermutu. Maraknya penulis di dinding facebook dan fanpage yang share info-info juga berdampak pada hal ini. Karena mudahnya salin tempel (copy paste) berita dari fb ke media lain seperti chat dan web, ini berdampak besar menyebarnya berita dengan impulsif dan tak terkontrol lagi. Hindari deh berita  yang sepotong-sepotong dan bias. :)

Tahu kan sikap impulsif? Asal kamu merasa bahwa hal itu benar, kamu akan segera mengirimkan berita tersebut ke teman kamu, lalu teman kamu pun melakukan hal yang sama, dst dst... Ya, bola salju pun menggelinding dan tinggal menunggu waktu sampai lebaran kuda deh biar beritanya nggak bergulir lagi dan lagi. :p

Jadi saran saya sih, baca buku aja, temans. Buku membuat kamu punya kebiasaan bagus yaitu membaca dengan lebih mendetail dan analisa yang mendalam. Kamu bisa memahami permasalahan awal hingga akhir. Jadi pemahamanmu terhadap suatu masalah pun jelas dan rinci. 


3.       Ojo gumunan, ojo kagetan

Ojo gumunan, ojo kagetan artinya jangan mudah terkagum pada sesuatu dan jangan mudah kaget juga. Kedua hal ini dapat menimbulkan reaksi spontan yang kerap impulsif. Kalau lihat sesuatu yang wah, amazing, dan heboh ya dengan judul yang bombastis kamu harus bersikap biasa aja dulu. Karena bisa jadi berita yang dishare itu sebenarnya berita biasa tapi dibumbui dengan “klik bait” hingga bisa menjadi viral dengan cepat.

Jangan mudah kagetan juga, jangan panikan. Kalau kamu panik trus gimana dong? Ya, diemin aja dulu waktu baca berita. Cerna dulu deh, trus tanyakan ke dirimu sendiri. Apakah berita ini benar? Apakah sumbernya memang kredibel? Apakah berita ini mengandung unsur provokasi maupun hal-hal negatif yang lain? Apakah berita tersebut layak dimasukkan ke dalam berita tidak penting? Kalau iya, tinggal buang informasi tersebut. Apalagi jika ada tulisan “Share ke orang lain, agar berita ini tidak hanya berhenti di kamu.” Duh ya, itu deh ciri-ciri hoax. Jangan kemakan hoax ya. :(

4. Sehat bersocial media

Sehat bersocial media artinya apa? Ya artinya kamu menggunakan social media dengan pikiran yang sadar dan waras. Jadi nggak mudah melakukan hal-hal semacam menyebar berita hoax tersebut. Pikirkan apa yang akan orang lain lakukan jika membaca pesan yang kamu kirimkan tersebut? Apa dampaknya jika berita hoax tersebut tersebar? Ini yang harus diwaspadai.

Social media yang seharusnya digunakan untuk bersilaturahmi jangan dikacaukan dengan menyebarkan berita yang tidak semestinya, meskipun itu cuma buat lucu-lucuan aja atau pemecah kebosanan (ice breaking). Kebayang dong, kalo berita hoax itu nyebar dari  postingan yang kamu share tersebut. Intinya sih ya, pilih berita dengan tepat dan sehat bersocial media ya, temans. Nggak semua berita yang kamu serap harus ditanggapi kok. :)

Yaudah sih, itu aja uneg-unegnya dari saya. Semoga cara menangkal berita hoax dengan cerdas ini bisa bermanfaat buatmu ya. Sekian dan terima takjil. :p

Ps : Iyaa, judulnya sok iye banget emang. ;)) Abis bingung mau ngasih judul apaan. :p

16 comments:

  1. Wah di timelenku banyak ni yang gumunan, anehnya justru kakak kakak kelas di sma. Bukannyabterlihat keren, tapi klo asal ngeshare gitu jatohnya malah norak ya hiks

    ReplyDelete
  2. Buener mbak. Berita hoax tuh nyebelin banget. Apalagi klo baca sekilas lalu dishare. Hadeeh... Mau ngingetin ntar dikira syirik. Huft

    ReplyDelete
  3. yang pertama saya lakukan biasanya tidak bersocial media ketika mood lagi jelek. Karena efeknya bisa jadi cepet emosian dan beresiko mudah percaya dengan hoax

    ReplyDelete
  4. Dan satu lagi, jangan mudah ikutan ngeshare berita kalau belum tau sendiri kebenarannya hehe TFS

    ReplyDelete
  5. Bener banget, kalau enggak ada filter dari diri sendiri itu bahaya ya, mba. Apalagi sekarang ini berita hoax tuh struktur penulisannya macem softselling. Suka bikin ga sadar tau2 percaya.

    ReplyDelete
  6. gemesss deh lihat hoax bertebaran di medsos. Saking gampangnya orang nyebar berita karena kuota makin murah jadi kurang pertimbangan benar apa gaknya. Mending cek ke pengirim berita sebelum meneruskan ke orang lain. Jangan cuma "copas dari grup sebelah"

    ReplyDelete
  7. Yang penting ketika baca berita harus jelas peruntukannya, jangan asal share karena nanti kita kena juga kalau bohong ya

    ReplyDelete
  8. Ibarat pisau ya... Kalau dipakai baik sama user ya berguna banget buat ngiris bawang. Tapi kalau dipakai ga benar bisa fatal melukai siapa saja.

    Bijaklah dengan internet :)

    ReplyDelete
  9. Mantep, Mbak. Biar nggak latah nyebarin berita ^^

    ReplyDelete
  10. Kalau saya sih, baca dulu berita yang diterima. Lalu dilogika, ini kira-kira bener ga sih, sumbernya jelas ga ya. Paling bener sih memang "ojo kagetan ojo gumunan" itu deh, harus lebih tenang menyikapi berita dan pesan berantai karena banyak banget orang-orang yang "yowes pokok forward" :)

    ReplyDelete

  11. aku sekarang mash jarang banget share berita - berita karena takut kalau salah dan hoax. Apalagi kadang udah beritanya salah yang share ngotot aja hehehe

    ReplyDelete
  12. Bener mbak kita harus pintar-pintar menyaring berita, jangan asal serap semua berita yang di share ke kita karena belum tentu berita itu benar.

    ReplyDelete
  13. Hihihi ibuk saya juga guru dan ayah saya pun pensiunan.
    Jadi kalau ada message message semacam “Like, share dan komen berita ini! Jangan berhenti di kamu biar semua orang tahu.” itu kadang juga di sebarin ke grup keluarga

    Ih saya juga gemez wkwkwk

    ReplyDelete
  14. cara lainnya adalah membaca berita yang sama di sumber yang berbeda :)

    ReplyDelete
  15. Tips yang berguna sekali min. terima kasih, hehehe....
    memang banyaknya berita hoax yang beredar membuat kita harus bisa bersikap bijak.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)