Quote of The Day

Selepas musim yang berganti, cara terbaik untuk memudahkan syukurmu terlantun adalah dengan menyederhanakan harapanmu hari ini.

Senin, 06 Juni 2022

Review Film Yuni : Ironi Perjodohan Gadis Remaja Di Tengah Masyarakat yang Patriarki


Film Yuni : Ironi Perjodohan ala Gadis Remaja Di Tengah Masyarakat yang Patriarki


Saya habis nonton film Yuni di Disney Plus Hotstar. Film berdurasi 2 jam ini mengangkat tema tentang perjodohan di kalangan masyarakat Banten. Banyak gadis muda yang menikah muda karena desakan ekonomi, juga permintaan dari orang tua.


Dalam film Yuni, seorang gadis bernama Yuni harus berhadapan dengan mitos bahwa jika menolak lamaran sebanyak dua kali, maka selanjutnya ia akan sulit mendapatkan jodoh terbaik. Padahal saat itu, Yuni sedang berjuang untuk mendapatkan nilai bahasa Indonesia yang bagus agar bisa lolos seleksi beasiswa kuliah sesuai impiannya.


Yuni merasa aneh dengan orang yang datang ke rumahnya karena naksir dirinya. Orang bernama Iman itu langsung mengajak orang tuanya untuk melamar Yuni, padahal mereka tidak dekat sama sekali. 


Well.... ibaratnya nih, Yuni anak yang supel, trus Iman sering dikasi senyum sama Yuni. Ealah ni anak baperan. Wkwk. Akhirnya ya udah, daripada jadi masalah, Yuni pun menolak lamaran Iman lantaran nggak sreg dan nggak kenal dekat dengan laki-laki itu. 


Lamaran kedua datang dari seorang lelaki tua yang mengincar anak perawan. Jika Yuni dianggap masih perawan, maka Yuni akan mendapat uang tambahan sesuai kesepakatan, sekitar 25 juta. Nenek Yuni membebaskan keputusan pada cucunya, karena mau hidup Yuni tetap ada di kendalinya sendiri. Orang tua Yuni juga mau agar anaknya kuliah dan menjadi orang yang lebih bermartabat.


Baca juga : [Review Film Indonesia] Manusia Setengah Salmon – Raditya Dika


Namun, ada desas-desus di lingkungan sekolah dan rumah, yang mengatakan bahwa jika Yuni menolak lamaran lagi, maka Yuni akan kesulitan mendapat jodoh. Ini membuat Yuni sangat tertekan dan stress, sampai ia justru melampiaskannya dengan pergaulan bebas.


Selain kisah Yuni, ada lagi kisah lainnya, tentang anak yang hamil di luar nikah, bunuh diri, pergaulan bebas, dll.


Lalu, gimana kisah Yuni selanjutnya? 

Tonton film Yuni di aplikasi Disney Plus Hotstar ya! 


Review Film Yuni (2021) Yang Tayang di Aplikasi Disney Plus Hotstar:


Btw, saya baru tahu kalau Banten itu pake bahasa campuran indonesia, sunda, sama ngapak Cirebon ya? Saya agak bingung sama bahasanya. Ternyata bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa Serang alias Jaseng. πŸ€”


Filmnya nggak cinematic, kaya film ala-ala vlog ala kadarnya, kayak bikinan anak jamet *punten huhu. Ya, tapi emang tujuannya mengangkat realitas di masyarakat daerah Banten ya.




Penasaran deh kenapa Yuni suka banget sama warna ungu, apa dia pecinta band Ungu juga? Haha πŸ˜…


Btw, Yuni sampe ngutil barang-barang temennya yang berwarna ungu. Bahkan dia dipanggil guru BK-nya karena perbuatan ngutilnya itu sudah sangat meresahkan. 


Yuni juga sering berantem sama teman sekelasnya karena rebutan barang berwarna ungu. Penyakit ungu Yuni sudah sangat mengkhawatirkan. Perbuatannya lebih mengarah ke obsesi, dibandingkan sekadar ngefans saja. 


Oiya, di Banten, banyak anak gadis yang nggak kuliah bukan karena nggak berbakat/ nggak pinter, tapi karena nggak ada biaya dan dukungan dari ortu. Terutama orang tua yang terobsesi anaknya cepat menikah agar tidak menjadi ghibahan tetangga dan lingkungan masyarakat sekitar rumah.




Yuni siswa SMA yang pinter fisika dan musik, tapi nggak suka mapel bahasa Indonesia. Ya, kaya kebanyakan anak SMA, bahasa Indonesia jadi momok menakutkan. Bikin review puisi nggak bisa πŸ˜…


Nonton film Yuni ini rasanya kaya ada yang kurang, entah apa ya. Kayak terlalu padat isu sosial yang mau diangkat, tapi jadinya nggak fokus. 


Premisnya tentang Yuni yang mau lanjut kuliah tapi terhalang tradisi di Banten di mana cewe nikah muda biar nggak jadi beban keluarga  


Trus, ada bahas tes keperawanan, isu TKW yang jadi lesbi, pak guru yang kaum pelangi, nikah karena hamidun, TTM an sampe pergaulan bebas, bahkan bahas suara itu aurat.


Baca juga : [Review Film Indonesia] Akhirat - A Love Story (2021) 


Saya kok ngerasa film Yuni ini overrrated ya. Rating dariku 7/10


Tapi film ini bikin depresi sih. 


Banyak perempuan yang masih berjuang mempertahankan hidupnya dengan cara yang benar-benar sulit kita pahami. Terutama karena desakan ekonomi dan nilai-nilai tradisi yang masih kental di masyarakat yang patriarki.


Kalau menurutmu gimana? Share di kolom komentar ya! 😍



1 komentar:

  1. Sejak pertama dikabarkan tayang film Yuni berhasil menarik perhatian sih karena ceritanya yang gak biasa, aku sendiri suka dengan tema yang diangkat. Walau belum nonton, hehe baru lihat cuplikan-cuplikan yang sering muncul di media sosial cukup memikat. Yuni ini kayak aku, pencinta warna ungu. Terima kasih reviewnya!

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)

Komunitas