Wednesday, 21 September 2016

Menilik Sisa Kebakaran di Pasar Johar

Hari Minggu lalu saat saya berlibur ke Semarang, saya menyempatkan diri mampir ke beberapa tempat yang sudah saya tandai sebagai persinggahan selama di Semarang. Mengingat waktunya tak banyak, saya jadi mencoret MAJt sebagai intinerary yang potensial. Ya, anggap saja saya nggak beruntung karena ternyata awan mendung menggelayut di langit kota. Saya perkirakan waktu tempuh yang cukup jauh jika ke MAJT, akhirnya saya berpikir untuk pindah haluan. Kayaknya enak kalau ke Sango aja kali ya. Jadilah saya seusai shalat di Masjid Baiturrahman pergi melanjutkan perjalanan sendirian dengan angkutan umum menuju pasar Johar.


Seingat saya Sango ada di dekat pasar Johar. Tapi saya lupa-lupa ingat sebelah mananya. Jadi setelah sampai di dekat Kantor pos  tertua di Semarang, saya langsung bertanya pada pak sopir. “Sango itu di mana ya, pak?”Si bapak menjawab, di belakang gedung besar itu. Ucapnya sambil menunjuk bangunan tua yang cukup tinggi menjulang dengan cat berwarna cream. Saya berjalan memutar lama, tapi tak kunjung menemukan pintu depan gedung yang dimaksud. Ah, apa salah tempat ya?

Saya pun bertanya kepada bapak yang ada di sekitaran pertigaan pasar johar. Bapak itu bilang bahwa gedungnya di sebelah sana, lurus terus dari arah saya berdiri. Letaknya di Plaza apa gitu lupa. Kubahnya melengkung yang menandakan sebuah bangunan. Saya berterimakasih kepada si bapak. Dan akan berniat melanjutkan jalan kaki saya menuju gedung itu. Tapi... tunggu dulu. Saya menoleh ke kanan jalan. “Eh, itu kan pasar Johar yang dulu kebakaran, sekarang masih ditutup ya?” Saya bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi dua tahun yang lalu.

Saat itu seorang teman anak BBI rumahnya dekat dengan pasar Johar bilang bahwa Pasar Johar kebakaran hebat dini hari. Saya nggak habis pikir bagaimana bisa itu terjadi. Tapi selang berapa lama, kobaran api membesar dan meluas hingga ke kios-kios di lantai atas juga. Dia ketakutan dan memberitahu teman-teman grup whatsapp BBI Joglosemar, bilang bahwa pasar Johar kemungkinan kebakaran parah. Dia siap-siap akan mengungsi.

Itu kebakaran pasar Johar yang saya tahu dua tahun lalu. Ternyata tahun ini Pasar Johar kembali kebakaran. Dan saat saya melewati jalanan itu, saya melihat bekas kebakarannya saat ini, tak ada yang berubah, beberapa bangunan bekas kebakaran masih ada seperti dulu. Hanya ditutupi lempengan seng-seng yang mengelilingi bangunan pasar yang rusak parah itu. Dinding-dindingnya kusam hitam legam. Tak terlihat adanya perbaikan yang dilakukan pemerintah, jadi saya pikir sepertinya pedagangnya menyebar entah kemana. Saya tak tahu apakah pasar ini akan dipakai sebagai tempat jual beli lagi atau dipugar menjadi bangunan lain. Ada rumor yang mengatakan bahwa pasar-pasar tradisional itu dibakar di beberapa daerah karena orang-orang menolak untuk meninggalkan tempat itu. Dan kalau isu itu benar, ya gimana ya. Sampai sekarang pun setelah Pasar Johar sudah ludes dibakar api dan hanya sisa-sisa bagian tertentu orang-orang masih berjualan di tepi jalan sepanjang jalan.

Pertanyaannya adalah apakah para pedagang mendapatkan ganti rugi atas kebakaran yang terjadi? Sepertinya tidak. Mengingat yang berjualan di sana kebanyakan adalah orang-orang menengah ke bawah yang menyasar pembeli di kalangan yang sama. Saya berpikir andai ada korban jiwa apakah akan ditanggung oleh pemerintah? Atau kalau tidak dari pemerintah, ya barangkali asuransi dari pihak swasta seperti misalnya asuransi kecelakaan diri terbaik Astra Life yang bisa saja dipakai oleh para pedagang. Kalau saat ini, para pedagang mungkin tidak memikirkan soal asuransi itu tadi. Mereka berpikir dagangan aman saja itu sudah lebih dari cukup. Beruntungnya memang kebakaran itu terjadi dini hari, jadi tidak ada korban jiwa. Ya, semoga saja tidak ada kebakaran semacam ini lagi di pusat pebelanjaan manapun baik yang tradisional maupun modern. 

Nb : saya sempat foto lapak pedagang di dekat bekas kebakaran Pasar Johar tapi dua foto yang diambil dalam kondisi panas terik itu ternyata ngeblur. Jadi ga ada dokumentasi tempatnya kayak gimana sekarang. :(

Manfaat asuransi kecelakaan diri terbaik Astra Life

9 comments:

  1. asuransi belum menjadi lifestyle di negara kita. eh belum sempat mampir Masjid Agung ya, aku sudah tahun kemarin tapi cuma numpang sholat Juamt doang, padahal pengen ngelait sendiri ruangan yang konon bisa berputar di ketinggian berapa itu. mudah-mudahan kelak kita bisa mengunjungi (lagi) Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang aamiin

    ReplyDelete
  2. Iya sih kalo pedagang kecil biasanya nggak pake asuransi utk dagangannya

    ReplyDelete
  3. Mungkin mau dibangun mall kali ya, xixi

    ReplyDelete
  4. pasar tuh memang dimana2 sepertinya rawan kebakaran ya... kasihan :(

    ReplyDelete
  5. Turut prihatin :(
    Keknya kalo dagang di pasar orang mesti siap2 kalo2 pasar terbakar ya, Ila. Kayak tren gitu membakar pasar :(

    ReplyDelete
  6. Hah? Kebakaran po? Dulu aku pernah tinggal di Semarang selama 2 tahun, tak jauh dari pasar Johar.

    ReplyDelete
  7. Iya Ila, kebakaran bisa dipicu oleh hal-hal yang tidak kita duga. Karena itu Bunda kalo ninggalin rumah Pamulang, selalu berbalik dua kali periksa semua stop-kontak dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  8. iya rumornya selalu seperti itu kalau kebakaran pasar :(

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)