Sunday, 2 March 2014

Gairah: Mencintai Kehidupan

Gairah: Mencintai kehidupan

Bangun tidur
Tidur lagi
Bangun lagi
Tidur lagi
Baaanguuunnnn tidurrr lagii...

Entah sudah hitungan keberapa telinga saya mendengar dan secara naluriah otak saya menghafalnya pula tanpa perlu bersusah payah saking seringnya mendengar lagu ini dinyanyikan di Tv saat kematian si pencipta lagu ini, ya … Mbah Surip. Ada satu pertanyaan besar yang sering melekat dalam benak saya, ehm… pertanyaan mendasar sebetulnya, karena ini berkaitan dengan kehidupan, ya.. masa depan. Benarkah kehidupan sehambar yang dinyanyikan oleh Mbah Surip, habis bangun tidur, ya tidur lagi. =D

Jika seseorang telah melewati satu fase kehidupan, benarkah kehidupan berikutnya jadi terasa begitu hambar?

Saya menyoroti satu fase, fase transisi. Misal saja, dari seorang sarjana menjadi pekerja, terkadang ia harus melewati dulu fase menjadi jobless, dari seorang lajang menjadi menikah, ia harus melewati masa-masa kritis antara dua status yang membuatnya kadang menjadi tak menentu. Entah, saya belum merasakan yang saya contohkan tadi, namun, dalam beberapa kali saya pun pernah, ya.. manusiawi dong kalo pernah merasakan hidup kita di dunia ini sehambar roti tanpa selai buah, cokelat atau pun keju. Tak hanya sekali malah, bahkan mungkin sering, ketika satu pekerjaan selesai, jiwa terasa hambar. Bukan sekali dua kali, lalu, apa sebenarnya yang terjadi? :-?

Seperti yang kita tahu, sebuah pekerjaan menuntut visi, sebuah tujuan dan disertai hasil di akhir. Nah, ketika hasil itu telah diperoleh, maka sang pelaku menganggap bahwa tujuan tlah terlaksana dan saatnya untuk beralih ke pekerjaan baru. Sayangnya saat-saat terakhir usai pekerjaan telah terlaksana, justru menjadi saat yang paling menakutkan, karena saat itulah semua berbalik ke titik nol, tak ada nilai, tak ada persiapan, tak ada hasil, kembali ke satu titik awal, hampa. Mungkin, karena itulah Allah mengajarkan kita untuk terus menerus bergairah terhadap kehidupan kita, dan terus-menerus mendekat padaNya. Subhanallah… Saat itulah acuan kita bukan lagi pada dunia yang hampa, yang mencandai kita dengan pernak-pernik cantiknya yang melenakan, namun acuan kita, tujuan kita, visi kita jauh tinggi melampaui semua pencapaian di dunia, ya… surga. Jadi, sudahkah menjadikan Allah tujuan utama kita? Wallahua’lam.

“Maka, apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Q.S. Al Insyirah:7)

Ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari dunia yang baru, semangat!

Panji Sukma, 18 Agustus ’09, 06:09
~sedang berusaha menata ulang gairah kehidupan dan visi ke depan.~

Nb : saya postingkan lagi, abis ubek-ubek blog pindahan yang dari mp nemu file ini :D Berasa liat harta karun, hehehe

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)