Tuesday, 23 August 2016

Surga yang Sudah Kita Tahu

Surga yang Sudah Kita Tahu

Semalam, saat saya akan mengajar anak-anak di bimbel, bapak bilang sesuatu. “Minta tolong diajar ya. Bapak mau berdoa.” Karena anak yang berangkat sekitar 7 orang jadi kelas bakalan riweuh kalau ibu yang ngajar sendirian. Saya ada jatah ngajar anak SMP tapi cuma dia aja. Jadi masih bisa ngajar anak kelas lain.

Balik ke soal doa tadi, saya kaget dengan pilihan kata yang dipakai bapak karena kata berdoa itu saya mikirnya bapak mau datang ke tahlilan orang meninggal.

Trus bapak bilang,
“Itu lho, bapak mau berdoa buat anaknya mas S.”
Karena terkejut dengan jawaban bapak saya tanya balik.
“Lho, anaknya mas S kenapa?”
Bapak jawab, “Dia nggak bisa jalan udah setahun lebih. Sampai nggak sekolah juga. Diusahakan pengobatan alternatif pun belum sembuh juga. Makanya ini mau berdoa sama-sama biar diberi kesembuhan.”

Lalu saya ingat tentang si Mas S ini. Mas S dulu termasuk keluarga orang yang berada. Saya heran sekaligus ngeri dengan cara Tuhan memberi hal-hal yang di luar prediksi pada manusia. Begitu mudah membolak-balik nasib manusia dengan sebegitu ekstrimnya.

Setahun yang lalu, anak mas S, sebut saja namanya K. Si K ini sakit parah di tulang punggung yang bikin dia sampai nggak bisa berjalan hingga 1 tahun lamanya. Si K terpaksa harus duduk di kursi roda. Dengar-dengar penyebabnya adalah syaraf kejepit. Syaraf ini yang ngaruh ke syaraf di kaki dan sampai sekarang si anak harus menjalani berpuluh-puluh kali terapi ke dokter bahkan ke pengobatan alternatif.

Duduk di kursi roda itu nggak enak. :') (doc : drakor Good Doctor)
Saya nggak bisa membayangkan gimana perasaan sepupu saya itu karena dulu anaknya sehat walafiat. Hanya karena lama bermain game itulah yang bikin syarafnya terjepit. Lalu mengalirlah uang tabungannya ke rumah sakit untuk berobat. Saya dengar dia bolak-balik pergi ke Semarang bahkan hingga harus memesan kamar kos dekat RS untuk anaknya karena pengobatan di dokter RS Karyadi harus mengantri lama. Karena janjian dengan dokter memakan waktu beberapa bulan sebelumnya, belum lagi jika sudah terapi harus bolak-balik rutin ke RS.

Di saat itulah saya ingat lagi. Berapa kali ya saya ngeluh soal hal-hal yang jadi ujian buat saya berapa hari ini. Rasanya kok nggak sebanding dengan sakitnya si K ini. Kasian kan nggak bisa jalan bahkan terpaksa harus berhenti sekolah. Boro-boro buat mikirin harga mobil baru murah yang biasanya dicari para pasangan muda. Mas S ini justru harus menjalani ujian yang berat saat usia anaknya masih di bangku sekolah dasar. Saya tahu si mas ini punya anak yang lain. Tapi anak yang lagi sakit ini adalah anak pertama. Yang seharusnya jadi tumpuan keluarga.


Saya ingat kembali dengan seorang teman SD saya. Anak kecil itu sakit epilepsi, berkali-kali kambuh di sekolah dan akhirnya harus cuti sekolah juga. Buat orang lain dia sudah dianggap nggak ada harapan lagi karena hanya bikin ulah di sekolah. Tapi buat orang tuanya dia masihlah anak-anak yang akan menjadi permata ayah ibunya.

Selepas ujian apa pun yang datang pada keluarga, kita akhirnya tahu bahwa hanya keluargalah tempat pulang yang sebenarnya. Tempat di mana hanya mereka yang mau menerima kita apa adanya, tanpa syarat atau embel-embel apa pun. Di rumah, surga yang kita tahu adalah tawa dan tangis yang berbarengan di hari-hari yang terlewati. Tapi saya yakin ujian akan menguatkan hidup menjadi pribadi yang lebih tahan uji di kemudian hari.  Semoga anak mas S segera sembuh seperti sediakala. :)

4 comments:

  1. Rumah memang selalu jadi tempat terbaik untuk berpulang.

    ReplyDelete
  2. Judulnya mirip bukunya Mas Fahd Pahdepie mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang ambil judul dari Fahd, mba. Tapi memang ada bukunya? Dulu cuma tahu itu artikel aja.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)