Monday, 28 September 2015

Catatan September : Bimbel

Sudah berkali-kali saya menolak untuk mendedikasikan diri pada dunia pendidikan. Dulu pas mau masuk kuliah, saya nolak buat masuk D2 PGSD. Alasannya lebih milih kuliah di jurusan matematika murni aja. Pas ada lowongan ngajar di sebuah sekolah di Semarang, saya yang mikir-mikir lagi karena feenya yang dikit. Nggak cukup buat transport dan makan. :P

Malah ada seorang teman yang mojokin saya dengan bilang. “Kenapa kamu nggak ngelesi? Kan sayang ilmunya. Ntar ilang. Blablabla” Dan saya sebel sama orang yang kayak gitu. Wkwk. Kenapa sih ngomongnya enak banget. Dia sih anak pendidikan matematika. Nah saya? :P

Ngajar anak sekolah ada beban yang berat.  Saya takut nggak bisa menunaikan tugas dengan baik, dan hasilnya kurang maksimal. Tapi sejak Juli, banyak anak lulusan SD di dekat rumah yang kelimpungan nyari sekolah lanjutan dan si ortunya curhat dong ke bapak. Ada yang nilainya mengenaskan, dan dipingpong sekolah sana-sini. Akhirnya sekolah di sekolah non favorit yang letaknya jauh banget dari rumahnya. Nyebrang jalan raya pantura.

Berawal dari situ, bapak bilang sama saya dan ibu kalau pengin bikin bimbel di rumah. Dan saya pun sukses melongo. Wkwk. Ngajar itu berat banget buat saya. Bukan hanya tentang gimana hasilnya nanti, tapi gimana mentransfer ilmunya kalau saya nggak punya skill psikologi pembelajaran. Nggak gampang kan ngajar anak kecil itu. Apalagi kalau anaknya itu anak tetangga. Tapi karena saya udah berkali-kali nolak, ya udah deh. Sekali ini nyenengin orang tua nggak papa lah. Jadi mulai akhir bulan Agustus dimulailah bimbelnya. :D

Dan proses belajar pun dimulai. Saya belajar gimana cara ngajar, si anak belajar nerima guru yang juga masih belajar. LOL. Fyi, sejak itu saya jadi mengamati proses anak-anak belajar. Ada  yang cepat menyerap, ada yang lambat. Ada yang aktif nanya terus, ada yang disuruh maju aja diem aja, nggak mau komen apa pun.
Malu,
minder,
nggak aktif,   
suka ngerecokin temennya 
susah konsentrasi 
hiperaktif 
nggak telaten
Dan semua itu PR besar. T.T

Gimana caranya biar anak termotivasi untuk mau belajar di luar jam belajar yang seharusnya. Gimana caranya agar mereka mau ngejar ketertinggalannya hingga bisa sampai melebihi kemampuan temannya dua step di depan.

Gimana caranya biar mereka haus akan ilmu dan mau untuk nyari tahu sendiri apa yang belum diketahui.

Mau aktif nanya ke temen, dan menyimpan rasa minder yang ada di dada.
Mau untuk berdekatan dengan teman yang pintar biar ketularan pintar, karena ada beberapa anak yang merasa terintimidasi dengan kecerdasan temannya.
Mau untuk capek-capek nyatet, biar ilmunya tersimpan rapi.

Karena saya tahu seorang bisa saja memiliki kemampuan 100 % di bidang yang ia kuasai, tapi saat ditransfer ia hanya bisa mentransfer 75% saja. Diterima murid dengan berbagai macam karakter hasilnya bakal beda-beda. Bisa kadang hanya 30-50 % dari materi yang diajar gurunya.

Ada 6 Metode Pembelajaran yang sudah dicoba :

 1. Kartu kata dan angka
Ini dipakai untuk membuat anak jadi semangat belajar angka dan kata. Kartu kata dipakai untuk belajar membuat kalimat, kartu angka dipakai untuk belajar berhitung. Untuk tingkat kesulitan masih level pemula. Dari hasil pengamatan, banyak anak yang suka. Bahkan ada yang udah request minta soal yang baru. :P

2. CD pembelajaran
Kalau yang ini dipakai untuk menyeimbangkan pelajaran. Ada anak yang lebih suka nonton video dibanding dijelaskan di papan tulis. Ada yang lebih suka lihat animasi yang gerak-gerak lucu. Biasanya tipe anak visual kinestetik atau anak yang hiperaktif.

3. Bikin soal sendiri
Kalau sudah menguasai tema, tentu harus dicek sampai sejauh mana kepahaman anak-anak tentang materi itu. Makanya anak-anaknya disuruh bikin soal sendiri, milih angka sendiri, jawab sendiri. :P Biarin deh mereka mencari tingkat kerumitan yang mereka yakini bisa dijawab. Dan ternyata memang benar. Ada anak yang maunya hanya stagnan di level yang mereka yakin bisa menjawab, ada yang mau nyari soal susah-susah.

4. Belajar langsung lewat pengamatan
Misal materi jenis-jenis daun, anaknya dikasih liat daunnya seperti apa biar dia paham materinya. Kalau materi tentang magnet, anak bisa lihat bagaimana cara kerja magnet. Ada lagi materi lidah, anak diminta nyicip rasa asin, manis, pahit, biar bisa tahu bagian lidah mana yang dipakai untuk merasakan rasa tersebut.

5. Mendongeng
Ini pertama kalinya saya mendongeng. Karena materinya hari kiamat. Iya, agama aja dilesin. Saya sampai gumun. Heuheu

6. Praktik
Karena di sekolah ada pelajaran TIK lagi jadi anak yang belum punya komputer dikasih lihat apa aja yang ada di dalam Ms. Word.


Ada lagi beberapa anak yang suka bermasalah. Ini yang bikin saya pening  kepala. :(
Pasalnya, anak ini kadang berulah, jadi ngerecokin temannya dan akhirnya kelas buyar. Misalnya aja minta ijin ke belakang, ternyata malah main air. Ijin keluar bilang kalau mau ambil bukunya yang ketinggalan di rumah. >.<

Ada lagi yang kalau ditanya nggak bisa jawab dengan percaya diri, malah selalu ngerjain soal dengan nanya ke gurunya. “Kalau 5 x 2 itu 10 ya, bu?” Baru kalau saya mengangguk, ia menuliskan angka itu di bukunya. Anak tipe ini, tingkat kemandiriannya kurang. :(

Ada lagi yang kalau dikasih soal tingkat ia, ia masih kurang. Malah lebih tertarik ke materi kelas lain. Ini terlalu cerdas apa ya. Wkwk. Yang pusing yang ngajar. Karena harus menyeimbangkan kemampuan anak-anak. Masalahnya kadang yang genius gitu itu selalu haus materi yang baru. Akhirnya yaudah ia dikasih soal yang ribet sekalian. LOL. Biar dia anteng. Karena kalau ia udah kelar biasanya ngerusuhin temannya yang belum kelar jawab. Eh, malah ia yang jawab soal temannya. Kan nyebelin. :D

Ada lagi yang ikut les biar ada yang ngerjain jawaban PR nya. =)) Jadi rajin berangkat kalau ada tugas aja, kalau nggak ada ya nggak berangkat. :(

Itu tipe anaknya, kalau tipe emaknya beda lagi.

Ada lagi emak yang ke rumah bilang kalau anaknya mau dilesin privat, alasannya karena ia lagi sibuk. Ya, banyak yang seperti ini. Memilih memberikan les karena dianggap bakal menaikkan nilai anaknya, lalu berlepas diri dari mengontrol seberapa kemampuan anaknya nanti.

Ada lagi yang emaknya care. Setiap mau les, si anak selalu dikasih notes kecil materi yang direquest buat dilesin. Jadi ortunya yang nentuin materinya. Ortu yang kayak gini biasanya juga mengecek sejauh mana kemampuan anak di sekolah dan di les. Jadi nggak dilepas gitu aja. Saya malah salut sama orang tua kayak gini, karena sebenarnya anaknya udah pinter juga tanpa dilesin. Jadi tinggal poles dikit-dikit.

Ada yang emaknya heboh kalau anaknya belum kelarin PR. Jadi meski anaknya udah pulang ke rumah, trus balik lagi ke tempat saya buat nanya kenapa anaknya belum ngerjain PR. Wkwk. Entah saya harus ngomong apa. Ternyata kurikulum yang baru sukses bikin emak-emak pada sibuk dan ketakutan, bukan hanya emaknya, anaknya pun sama. Hasilnya proses belajar yang seharusnya menyenangkan jadi seakan momok karena orientasinya selalu nilai, bukan sejauh mana si anak ini bisa menyerap ilmunya dan belajar untuk berpikir kritis dan mandiri.

Ada 19 anak, dan amanah ini nggak mudah. Saya hanya berharap bisa dikaruniai kesabaran dan keikhlasan ngajar. Karena guru yang ngajarnya ikhlas insya Allah ilmunya sampai ke anak bahkan meski anaknya sudah dewasa masih bakal ingat. Pengalaman dari sekolah dulu begitu. :) Sepertinya saya perlu banyak-banyak berdoa seperti doa nabi Musa di bawah ini agar dilancarkan ucapan dan urusan oleh Allah. :)

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي
Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku].” (QS. Thoha: 25-28)

11 comments:

  1. Semoga dilancarkan yah mengajarnya. Ngajarin anak orang emang lebih susah dari ngajar anak sendiri :D

    ReplyDelete
  2. Wah repot juga yah jadi guru. Semangat ya, La!

    ReplyDelete
  3. Memang selayaknya seorang guru memiliki tingkat kesabaran yang ekstra ya, kak.. Pemakluman dengan kalimat "Ah, namanya juga anak-anak" saja nggak cukup. Hehe. Semoga suatu saat ada celah untuk bisa mengajar ya, kak.. 😊

    ReplyDelete
  4. Semnagat Ilaa, wah banyak ya anak lesnya semoga jadi berkah dan barokah yaaa dan sukses jadi guru yang baik aminnn :)

    ReplyDelete
  5. Hihihi...jadi guru itu tuh banyak ceritanya ya mbak. Pernah, saya ditegur sama anak les saya mbak gara2 pelajaran yg saya ajarkan nggak jadi soal pas UTS. Lah dalah dikira saya ngasih bocoran kali.

    ReplyDelete
  6. That's why aku ngerasa lebih enak jadi penyiar, meskipun kuliah di keguruan, kak Ila.
    Jadi guru itu bebaaaann.
    Terlebih akunya sadar diri kalo aku ga pinter Fisika (tapi kuliahnya Fisika) xD xD

    ReplyDelete
  7. aih,senangnya..selamat ya mbak....nano2 deh pokonya kalo ngelesi hehehe

    ReplyDelete
  8. Aku masrahin anak2 ke sahabatku yg guru bimbel, tapi privat dirumah heheheee.... Drpd pusing nyari guru yg blm tentu cocok, kalo sama sahabatku sdh kyk tantenya sendiri. Nggak takut tanya. Aku nggak masukin anak ke bimbel krn anakku pendiem, ntar diem aja di kelas kan rugi.

    ReplyDelete
  9. Sy juga ambil ilmu murni Mak. Ga suka jurusan pendidikan tapi suka anak2 *hloh. Skrg ngajar les juga. Tapi cita2 dulu sy memang pgn buka bimbel di rumah hihi! Skrg masih blm terwujud. Semoga nanti bisa, aamiin.

    ReplyDelete
  10. Wah semoha amanah ya mb. Sya malah justru seneng ngajar lho (ya iya kan profesi sy guru hehehe). Kadang teori saja memang tdk cukup, hrs lbh banyak praktek apalagi bljr matematika yg merupakan momok menakutkan bagi anak2. Semangat mb Ilaaaaa

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)