Wednesday, 13 July 2016

Cerita Lebaran Tahun Ini

Lebaran telah usai. Apa saja yang terlewat selama libur lebaran? Banyak cerita yang terekam di ingatan, hanya saya bingung mau mulai nulis dari mana. Karena random sekali dimulai dari berita kematian seorang kerabat di desa kelahiran simbah, Ujung Rusi, Kabupaten Tegal. Simbah saya udah lama meninggal. Beberapa tahun lalu. Kami sekeluarga masih sering mengunjungi makam setelah shalat Idul Fitri. Kadang saya ikut, kadang ga karena berhalangan misalnya pas sakit atau haid. Orang haid dilarang masuk ke makam, jadi pernah juga saya izin ga ikutan ke makam.

Kali ini setelah shalat Ied di masjid Baitussholihin dekat rumah, saya berjalan beriringan dengan ibu dan Ayie. Di tengah jalan, bapak datang dan usai saya cium tangan minta maaf, ada kabar mengejutkan yang disampaikan. Katanya, ada saudara simbah yang meninggal dini hari tadi. Tepatnya jam berapa kami belum tahu. Jadi diputuskan untuk menunggu kabar kejelasan berita kematian itu. Sesampainya di rumah, kami bersiap membungkus ketan salak untuk slametan di masjid. Ada tradisi masyarakat di desa saya yaitu saling bertukar makanan di masjid seusai shalat Ied. Makanannya boleh apa saja, asal halal. Biasanya ada yang berbagi ketupat, ketan, dsb nya.

A photo posted by Ila Rizky (@ilarizky) on

Kenangan Berharga di Pemakaman Kerabat

Biasanya, setelah bapak selesai syukuran di masjid, kami berkeliling kampung untuk bersalaman dengan keluarga yang lain. Tapi ternyata kali ini tak bisa. Kami dikabari bahwa dari pihak keluarga akan memakamkan jenazah Om Caryo pukul 10 tepat. Jadi, daripada telat, kami pun meniadakan salaman dengan kerabat lain. Langsung segera menghubungi budhe, bulik, dan yang lainnya untuk segera bertemu dan berkumpul di rumah duka. Setelah sampai di Ujung Rusi, kami pun masuk ke rumah duka disambut dengan tangisan anaknya.

Saya nggak gitu dekat dengan keluarga ini. Mengingat Om Caryo adalah anak dari adik simbah. Nah, Om Caryo jadinya dianggap om oleh ibu saya. Kami hanya bertemu setahun sekali ketika keluarga berkumpul. Tapi yang saya ingat tentang Om Caryo ini, beliaulah yang mengingatkan saya tentang arti ikhlas. Dulu waktu saya ada masalah, dan belum selesai masalahnya. Sampe nggak berani bilang sama bapak dan ada keregangan hubungan. Beliau dan istri datang ke rumah. Dan menasihati saya dengan nasihat tentang ikhlas. Saya diminta berdoa setiap kali saya merasa belum ikhlas, berdoa sambil mengusap dada dan bilang bahwa saya ikhlas sambil membaca doa untuk orang tua dan membaca 3 surat pendek seperti Surat An Naas, Al Ikhlas, dan Al Falaq sebelum tidur. Beruntung setelah pertemuan  itu saya jadi lebih dekat lagi dengan bapak.

Perihal pemakaman, pemakaman berlangsung cukup hikmat. Agak kaget juga mendengar cerita tentang kematiannya yang berselang hanya 3 bulan dari kematian Pakdhe. Saya pun mendengar lagi tausiyah dari Ustad yang mendampingi pemakaman hari itu. Merinding, karena mendengar lagi ucapan tentang bab kematian yang harus dilalui oleh si mayit setelah dikubur. Merinding mendengar suara tanah yang dicangkulkan dan dimasukkan perlahan ke dalam liang lahat. Rasanya seperti gemuruh saat suara tanah itu jatuh satu-satu.

Setelah pemakaman pun masih ada tangis anaknya yang membuat saya trenyuh. Mungkin benar ya, kehadiran orang tua akan terasa hilang ketika sudah tiada. Kalau masih hidup, ini saatnya untuk berbakti. Biar nggak ada kata terlambat lagi. Sebelum semuanya tiada dan yang ditemui hanya tanah kuburannya saja.


Silaturahim ke keluarga saudara di Slawi


Siangnya kami meluncur ke Slawi, kota beraroma teh. Mengunjungi Slawi berarti menemui ingatan masa kecil. Ketika keluarga simbah masih berkumpul seperti dulu. Sekarang sudah terpencar ke sana kemari. Yang kami temui hanya dua pakdhe dan satu tante yang masih tinggal di Slawi. Waktu saya salaman dengan Pakdhe yang dulu dikiranya sudah meninggal pas di Jakarta, ternyata kondisinya sekarang sudah membaik meski masih sedikit yang mau peduli dengan kesehatannya. Saya juga ketemu dengan sepupu yang udah lama ga ketemuan. Pangling banget. Eky terlihat jauh lebih kurus dan lebih putih. Dengar-dengar kabar dia bakalan nikah Desember tahun ini, jadi saya kesalip lagi dong. Hahaha. :P Padahal dia seumuran adek kedua saya, bedanya 6 tahun boo. :P

Soal pertanyaan kapan nikah memang nggak pernah muncul dari keluarga kerabat, tapi malah datangnya dari adek sendiri. Wkwk. Katanya, Eky aja bentar lagi nikah, kamu kapan mba? Ealah, masih dibahas pula. Iya, bakalan nikah kok, kalo udah ada calonnya. Nggak perlu yang kaya dari lahir kayak suami Dian Sastro *eh Tapi yang penting tahu arti kerja keras buat nafkahi keluarga, smart, lucu dan orangnya sholeh. Keluarga nggak cukup makan pake cinta aja ya, kakak. Ini realistis opo kemaki sih. :P *ditabok yang baca* =))

Ada kejadian lucu waktu ketemu sama sodara sepupu ini. Saya saking panglingnya bingung waktu dia minta salaman, ngga saya kasih. Eh, bener kan, kalo sodara sepupu tuh nggak boleh salaman? *baca silsilah mahram di banner Line-nya anak rohis ITB katanya sih gitu.


Trus, ada kabar lainnya lagi dari sepupu juga, namanya Liza. Saya juga udah lama nggak ketemu dengan anak ini. Terakhir entah kapan. Sejak simbah meninggal memang udah jarang ada acara kumpul-kumpul yang beneran keluarga ngumpul semua. Padahal dulu rumah di Slawi paling sering djadiin basecampnya sepupu-sepupu buat main kembang api dan nonton tv waktu lebaran. Nontonnya masih zaman warkop dki jadi idola banget. *ketahuan deh generasi tahun berapa* =))

Liza ini juga mau nikah, tapi saya lupa nanya kapannya. Denger-denger tahun ini juga. Saya masih inget wajahnya tapi suaranya emang udah logat jakarta banget. Dan ngomong-ngomong soal foto lebaran sekeluarga, kami pernah sekali bikin tahun lalu, tapi tahun ini sama sekali nggak ada niatan buat foto-fotoan bahkan meski ketemuan sama sepupu jauh dan kerabat lainnya. Saya inget terakhir kali motoin orang di workshop fotografi, eh orangnya protes. Jadi sejak itu saya males motoin orang. Kecuali orang itu minta sendiri untuk kepentingannya sendiri. Ya, saya jadi sadar kalo nggak semua orang mau difoto, meski itu untuk dokumentasi acara.

Jadi, segini aja dulu cerita lebaran saya. Kalau kamu? Share dong di komentar. :D

===


Btw, Taqabalallahu minna waa minkum ya, temans. 
Mohon maaf lahir dan batin. Kita mulai lembaran baru dari nol lagi ya~



5 comments:

  1. Ternyata gitu ya urutan nasabnya. Aku kadang malah suka salaman n peluk2 sama sepupu2..

    ReplyDelete
  2. Seru ya la lebarannya..minal aidzin wal faidzin..

    ReplyDelete
  3. Aku ke makam lebaran ketiga, trus foto sma sodara tp gak sekeluarga. Malu2 gitu, hihihihi

    Blm ada yg nanya, kpn nikah hahai

    Maaf lahir batin, mba Ila

    ReplyDelete
  4. Selamat Idul Fitri, Mbak Ila. Mohon maaf lahir dan batin yaaa :-)

    ReplyDelete
  5. Lebaran tahun iniii... warna-warniiii, meskipun gak kemana-mana mbak, hahaha... di rumah tok! -_-

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)