Monday, 2 May 2016

Orang-orang Loyal Itu...

Orang-orang Loyal Itu...

Enam tahun terakhir ini saya bertemu dengan banyak orang dari beragam kalangan. Mulai dari yang hanya kenal dari dunia maya hingga kenal dekat. Ada satu sikap yang saya amati sangat membekas di hati terutama tentang seberapa loyalnya mereka dengan teman, termasuk saya yang baru mereka kenal. Misalnya aja tahu-tahu ngobrol dan tetiba bilang mau kasih sesuatu.  Atau ketemuan dengan rencana tanpa saya berpikir tentang oleh-oleh dan tiba-tiba aja. “Mba, ini hadiah buat kamu. Pilih aja mana yang disuka.” Glek. Saya diem gitu aja karena saya tahu nggak bisa balas kebaikannya selain mendoakan dan berterima kasih pada yang memberi. Dan ini bikin saya malu karena ya sebagai yang diberi rasanya saya belum bisa membalas kebaikannya selama mengenal saya.

Belakangan saya baru tahu bahwa pakdhe (almarhum) juga termasuk tipe yang seperti ini. Nelatenin orang buat ngasih sesuatu sama orang yang dia kenal. Nggak cuma satu orang tapi teman-teman dekatnya tahu bahwa dia tipe yang seperti itu. Meski orang tersebut merasa sebenarnya bisa beli sendiri nantinya. Seperti sadel sepeda yang saya bilang seharusnya nggak udah dibeliin. Eh ya tahu-tahu dibeliin dan diganti aja gitu. Sampai saat pemakaman ada kerabat lain yang berusaha tetap datang takziah padahal sedang lumpuh, nggak bisa apa-apa di atas kursi roda. Katanya dulu memang sering sowan ke rumahnya.

Saya baru tahu bahwa benar hanya kebaikan yang orang ingat ketika kita meninggal. Dan justru itu yang sulit untuk dilakukan karena kita nggak tahu mana kebaikan yang akan mengantarkan kita pada doa-doa yang baik. Kalau kata bapak, segala kebaikan yang kita lakukan itu untuk nitip urip. Kita nggak bisa selamanya jadi orang yang berada, selalu punya apa-apa. Tapi ketika punya lebihan kasihlah ke orang lain agar nanti Allah yang kasih balasan. Nggak perlu berharap bahwa orang itu yang akan membalas, mungkin balasannya akan berbeda dalam bentuk doa. Saya  memang nggak pernah tahu doa siapa yang selama ini menjaga saya dari buruknya dosa. Kalau ditimbang saya nggak tahu kan mana yang lebih berat, amalan kebaikan atau keburukan yang pernah dilakukan.

Dan saya ngerasain banget bahwa pola pikir saya jadi berubah sejak berkenalan dengan orang-orang loyal itu. Saya mulai bertanya, kapan ya bisa ngasih hal yang sama pada orang lain tanpa mikir duitnya bakalan habis. Saya mulai bertanya apa saya bakalan bisa mendengarkan cerita orang karena mereka hanya butuh didengar sedangkan orang lain tidak mau mendengar keluh kesahnya? Saya mulai bertanya, apa bakalan ada yang tetap mengunjungi dan berziarah ketika saya meninggal nanti? Apa yang orang lain ingat tentang saya? Dan segala pertanyaan-pertanyaan itu mulai bermunculan sejak melihat bagaimana prosesi penguburan jenazah almarhum. Ya, dunia memang sementara. Tempat buat main-main aja. Nanti bakalan pulang ke tempat yang lebih kekal, tanpa pernah saya bisa menjawab seberapa banyak hal-hal baik yang saya lakukan selama ini. 


“Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu” - 
“Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlah dia.”


3 comments:

  1. Ceritanya menarik banget, Mbak.
    Memang berbagi sama orang lain bisa bikin kita lebih happy. Bahagia itu sederhana, ya :)

    ReplyDelete
  2. Aamiin....
    Kadang,kalo udah dipertemukana sama teman yang loyal itu rasanya istimewa bangettt..tapi habis itu galau,pas udah curhat berdua,dia malah bilang...ya ampun,cuma gitu aja,g usah lebai...g jadi galau lah jadinya hahahaha.

    ReplyDelete
  3. jadi inget sama nenek aku nih kalau ketemu cicit2 selalu kasih uang walau sedikit jadi mereka inget trus :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)