Tuesday, 17 May 2016

Cermin-cermin – Ketika Harus Menurunkan Level Kritikan

Cermin-cermin – Ketika Harus Menurunkan Level Kritikan

Cermin 1
Seorang perempuan menunggu dengan gelisah rombongan yang ada di belakangnya. Menanti dua perempuan yang lebih muda usianya, yang hobi selfie di tempat wisata dengan tanpa mempertimbangkan waktu. Sekali melihat dua sosok yang ditunggunya itu tiba, yang terucap pertama kali adalah, “Mba, ditunggu lama banget. Kita udah dari tadi ditelpon sama sopirnya.” Sontak saya kaget mendengar keterbukaan semacam itu. Tapi jujur, itu membuat penilaian saya padanya sedikit berubah karena raut wajah tak suka yang kontras ditampakannya.

Cermin 2
Seorang perempuan melontarkan sesuatu yang bikin saya mengernyitkan dahi karena kaget. Komentarnya yang bikin saya bertanya dalam hati, tapi urung dilontarkan. “Mba, kok nggak disedekahkan aja?” Sejujurnya, setiap kali keputusan tentang sesuatu saya ambil, termasuk waktu saya menjual buku-buku yang saya punya itu pasti ada pertimbangan matangnya. Mana yang lebih baik bagi saya saat itu. Tapi ya, begitulah. Saya merasa mbak ini terlalu “sok tahu”.

Cermin 3
Perempuan di ujung sana berteriak di kamar mandi, menyalahkan suaminya karena tidak ingin hadir dalam sebuah acara keluarga. Yang terdengar di luar ruangan adalah gema amarah, persis seperti gelegar petir di siang hari saking suaranya kencang sekali. Amarahnya belum juga reda sampai obrolan ditutup di telepon tanpa penyelesaian. Dan saya pun tertegun, apa pernikahan seseram itu, mbak? Tanpa kompromi, tanpa diskusi. Yang tersisa adalah jeda yang menyelimuti udara dengan sisa-sisa emosi yang diucapkan dengan nada penyesalan.

Cermin 4
Perempuan yang ditag sebuah postingan itu marah-marah di sebuah komentar status. Sebuah ucapan yang bikin saya bertanya-tanya, apa se-annoying itu seseorang yang men-tag sebuah promosi hingga harus diselesaikan dengan cara frontal di depan tanpa perlu inbox?

Empat cermin buat saya, keempatnya perempuan yang saya kenal baik secara personal maupun hanya saat itu saja. Dan saya perempuan juga. Saya tahu rasanya jadi perempuan yang ketika marah melontarkan marahnya secara cepat atau kadang disimpan dalam hati dan berujung jadi sakit karena ditahan-tahan. Saya tahu rasanya menjadi orang yang suka mengkritik orang lain, dan mengucapkan sesuatu tanpa pikir panjang. Tanpa memikirkan perasaan siapa yang akan mendengarkan ucapannya. Selepas ucapan itu keluar baru sadar bahwa semua terlambat.

Keempatnya perempuan yang terlambat menikah, bedanya yang nomor 3 sudah menikah sejak lama tapi belum dikaruniai anak. Satu yang membuat saya jadi paham bahwa bagaimana laki-laki bisa sebegitu sabarnya jika perempuan yang didekatinya semacam itu? Dan ternyata sifat perempuan memang seperti itu, meski ada juga yang akhirnya jadi lebih lembut setelah menikah. Saya jadi ingat cerita Umar bin Khattab yang dimarahi istrinya hanya diam saja, memang ternyata lebih baik megitu menanggapi seseorang yang sedang marah, apalagi perempuan. Percayalah, cuek itu yang terbaik. Dibanding harus adu argumen.

Saya jadi ingat cerita Anya yang marah karena suaminya menyebutnya sebagai pembunuh anaknya, dna itu diingatnya hingga 6 bulan pernikahan. Itu cerita di novel Critical Eleven. Saya jadi ingat komentar bapaknya Ale yang bilang, “Kalau masalahnya selesai lama biasanya yang marah perempuannya.” Dan baca ini saya jadi pengin bilang, iya banget, pak. :p 

Kok bisa ya perempuan dikaruniai sifat merepet sepeti itu ketika marah. Padahal bisa berkebalikan dengan laki-laki yang lebih milih diem dan cuek. Kok bisa ya perempuan diamanahi sifat yang seperti itu, cenderung mudah tidak menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Saya tahu bahwa di Al Quran Allah sudah bilang bahwa perempuan itu kadar syukurnya kurang, tapi melihat ini jadi bercermin lagi. Apa saya juga masih memiliki sifat itu dalam kadar dominan? Sifat suka mengkritik dan kurang syukur. Jika iya memang harus belajar, belajar lebih banyak sabar. Iya, sabar demi hidup dan jiwa yang damai~

#curcolrandom




2 comments:

  1. Saya berkaca dari tulisan ini. Kdg saya berpikir kalo pak suami ga sabar ngadepi saya, gmn coba. Alhamdulillah Tuhan memberikan pak suami yg sabar meski sifatnya beda bgt dgn saya

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)