Thursday, 17 December 2015

Who Move My Cheese? : Saat Manusia Menolak Kekinian

Who Move My Cheese? : Saat Manusia Menolak Kekinian

Who Move My Cheese adalah judul buku karya Spencer Johnson, M.D yang saya baca belakangan ini. Baru baca sekarang, padahal udah lihat review teman di blognya dari awal tahun. Telat banget ya. Hahaha. *ketawa ngenes* Buku ini membahas tentang teori perubahan yang disampaikan lewat dongeng. Bahwa semua hal di dunia ini berubah, tidak akan sama seperti sebelumnya. Hari ini berbeda dengan hari kemarin, dan tahun lalu jelas berbeda dengan tahun ini.


Masalah terbesar yang dihadapi manusia adalah ternyata mereka selalu telat sadar bahwa perubahan terjadi pada dirinya dan lingkungan. Hingga akhirnya menolak untuk beradaptasi. Karena apa pun yang membuat mereka nggak nyaman, akan segera disingkirkan. Intinya sih nyari tingkat kenyamanan dengan menganggap bahwa perubahan nggak akan terjadi dalam hidup mereka, baik dalam hal karir, hubungan, komunikasi, dll.

Contoh Kasus Kekinian Yang Membuat Manusia Butuh Berubah


Noted ya. Yang saya maksud di sini perihal kekinian adalah situasi terkini yang paling baru dalam hidup manusia. Misalnya nih : dalam hal dunia digital. Dalam dua tiga tahun ke depan akan makin berkembang pesat. Jika kita menolak untuk belajar tentang segala hal dunia digital, mungkin akan tertinggal jauh dari orang lain. Apalagi jika digalakkan perihal era pasar bebas yang akan saling berhubungan dengan pasar dunia digital. Tentu pedagang yang tahu bagaimana cara memanfaatkan perkembangan era digital ini akan membuat penjualannya meningkat dengan belajar bagaimana membuka pasar baru lewat tren dunia digital.

Orang yang tidak tahu tentang pasar digital akan terlambat menyadari perubahan pola perdagangan. Padahal tahukah kamu, bahwa Mataharimall.com mendapatkan keuntungan besar dengan membuat website. Hari belanja online kemarin adalah salah satu buktinya. Mereka mendapatkan lonjakan kenaikan penjualan sebesar 10 x dari hari biasa dengan memanfaatkan moment hari belanja online. Coba kalau mereka telat menyadari pentingnya hari belanja online? Pasti mereka akan tertinggal jauh dengan kompetitor lainnya.

Ketika orang malas untuk masuk ke mall. Mataharimall menawarkan kekinian dengan tren belanja online. Dengan demikian mereka bisa menggaet pangsa pasar yang lebih luas lewat penjualan dalam websitenya.

Baca juga : Berburu Oven Murah di Diskon Cuci Gudang MatahariMall.com. Yuk, Beli Ajaaa!

Contoh kedua nih. Misal kita menganggap bahwa selfie adalah kekinian, lewat instagram orang jadi bisa eksis. Berapa banyak selebgram yang mendapat uang dari mengikuti tren selfie dan kekinian ini? Banyak! Sangat banyak! Itu sebabnya saya menyebut kekinian dalam postingan ini. Mereka para selebgram saja mendapatkan banyak keuntungan dari endorsment. Apalagi jika kamu menjual produk lewat instagram. pasti banyak yang beli. Inilah salah satu sisi positif dari perubahan di era digital.

Ada lagi nih, perihal selfie, Tahu siapa Nilam Baba Rafi? Melihat tren anak muda nan gaul mengupload foto makanan di instagram, dia pun akhirnya membuat warung makan berkonsep kekinian. Warung makan yang membuat orang yang ketika melihatnya ingin jepret sana sini di warungnya sembari memamerkan makanan. Dalam hal ini, Nilam mendapatkan pendapatan yang cukup meningkat dengan penjualan produk selain kebab lewat promosi gratis dari pengunjungnya. Jika Nilam Baba Rafi tidak melihat peluang ini, dia akan kehilangan pangsa besar dalam tren makanan kekinian.

Apa itu Who Move My Cheese?


Who Move My Cheese? berisi cerita tentang Hem, Haw, Sniff dan Scurry, empat tokoh imajiner yang memperlihatkan tentang teori perubahan. Si tikus bernama Sniff (Endus) dan Scurry (Lacak), dan Si kurcaci bernama Hem (Kaku) dan Haw (Aman) bertujuan untuk mewakili diri kita baik dari sisi yang sederhana maupun rumit. Kadang kita bertindak seperti Sniff yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat atau Scurry yang segera bergegas mengambil tindakan. Hem yang menolak dan mengingkari adanya perubahan karena takut jika perubahan itu mendatangkan hal yang buruk, atau Haw yang baru mencoba beradaptasi jika dia melihat perubahan ternyata mendatangkan sesuatu yang lebih baik.

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda dalam menyikapi perubahan. Hem, Haw, Sniff dan Scurry selalu mencari cheese mereka yang ada di dalam labirin. Ada yang meyakini bahwa cheesenya hanya dipindahkan oleh orang lain dan orang itu akan mengembalikan ke tempat asalnya seperti Hem dan Haw, ada juga yang segera mengendus mencari sumber cheese yang baru seperti Sniff dan Scurry. Semuanya membuat adaptasi berdasarkan pola pikir yang biasa dipakai dalam keseharian.


Bagaimana Melihat Perubahan dan Kekinian dalam Bentuk Positif?


Nah, masalahnya adalah kita sebagai manusia melihat perubahan dengan cara pandang yang mana? Ketika perubahan datang misalnya ada mutasi dalam karir yang ternyata bikin nggak nyaman, atau ketika hubungan dengan seseorang memburuk, apa yang harus diubah? Kebanyakan manusia mencari tingkat kenyamanannya sendiri.

Saya juga sih. Seringnya menolak perubahan, menolak kekinian. Rasanya ada perasaan nggak rela aja bahwa sesuatu ternyata tidak seperti dulu lagi. Tapi mau bagaimana? Bukankah seharusnya manusia berubah? Jika tidak beradaptasi, maka dia akan punah. Ini teori klasik leher jerapah yang memanjang karena dia mengambil daun-daunan di atas pohon, inget nggak? Kalau ingat pasti tahu mengapa demikian. Karena jerapah berubah, ia menyesuaikan dengan lingkungannya yang akan membuatnya tetap mendapatkan tempat makan yang enak dan lezat.



Sama seperti Scurry dan Sniff yang melacak perubahan di buku Who Move My Cheese ini. Mereka mengamati setiap hari, tren berubah, nasib berubah. Ketika mereka tidak berbenah, maka tamatlah riwayatnya. Cheesenya habis dong, mengira kalau cheesenya dipindahkan sama orang lain itu sama aja dengan menganggap bahwa perubahan nggak akan terjadi. Padahal dengan mengikhlaskan cheese yang hilang, kita akan segera mendapatkan cheese yang baru. Bener kan? :D

Atau kamu ingin jadi Hem dan Haw yang menganggap “sakitnya tuh di sini” ketika tantangan perubahan muncul. Lalu mengira hal ini nggak akan terjadi lagi dan dunia akan tetap sama seperti sebelum negara api menyerang *eh. Ya, seperti itulah. Pilihan ada di tangan kita sendiri, mau move up atau mau ada di tempat yang sama hari demi hari tanpa melihat perubahan yang sudah terjadi? Silahkan pilih. :D


*celotehan dini hari*

11 comments:

  1. menurutku perubahan dan kekinian agak berbeda..kekinian lebih kearah tren, yang misalnya engga ngikutin pun engga berimbas fatal dalam kehidupan..misalnya kyk jaman sekarang, "kekinian" selfie (meski photo sendiri itu jg dari jaman dulu udah ada), tapi jika engga ngikutin engga fatal kehidupannya...klo perubahan, memang mau ga mau harus ikutin perubahan..misalnya dlm IT, pemrograman itu bertambah terus versinya / teknologinya..kalau tidak mengikuti, maka seseorang itu bisa tertinggal..dan bisa redup juga karirnya jika masih memilih IT tp ga adaptasi dengan perubahan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu salah satunya, kak. Kekinian dalam dunia IT pasti ada kan ya? Perubahan tren ini yang harus diikuti yang aku sebut situasi terkini/kekinian. Menurutku gitu sih. Soalnya ada yang menolak untuk ikut berubah ketika ada suatu tren, padahal tren itu akan membawa banyak hal baru dalam hidup. Contohnya aja dalam dunia blog yang sekarang. Kalau ada perubahan, tentu itu memang berhubungan dengan situasi baru. Kalau nggak berubah juga berarti jangan salahkan kalau tertinggal dengan teman lainnya. Begitu.

      Delete
  2. Aku tuh mbak salah satunya, menolak berubah dan memilih menyingkirkannya, karena merasa ga nyaman. hehehehe

    ReplyDelete
  3. kekinian tapi gak wajib lah kita ikutin kalau gak cocok kalau menurtukuya :) Aku juga punya bukunha ini Ila

    ReplyDelete
  4. hehehehehe..kekinian ya mbak. Semoga perubahan kekinian berdampak positif juga yaaa

    ReplyDelete
  5. Virus kekinian mulai menyerang sepertinya. :D

    ReplyDelete
  6. pandai-pandai memilah kekinian yg cocok buat kita

    ReplyDelete
  7. Sebetulnya inti dari buku ini adalah tentang keberanian untuk berubah, sederhana. Tetapi justru di situlah kesulitannya, karena kebanyakan kita tidak sadar sedang terjebak dalam zona nyaman.

    Saya pernah membahas film (bukan bukunya) ini dalam satu mata kuliah selama satu semester dan tidak ada habisnya karena isinya terus relevan dengan keadaan yang sedang terjadi saat itu. Tapi memang pantas kalau bukunya best seller.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)