Saturday, 30 August 2014

Potensi Pengembangan Peran Ikapi

Andai setiap buku dikemas selezat kue ini, pasti banyak yang suka ;) (credit : mba Luckty)


“Sebaiknya jangan pernah berpikir mengapa saya tidak pernah berhasil, tapi mengapa saya belum berhasil." -Unknown

            Geliat perbukuan Indonesia yang mulai terasa di beberapa tahun terakhir, saya rasakan sebagai sebuah perubahan yang menarik untuk diikuti. Banyak penerbit baru baik imprint penerbit lama, maupun penerbit indie yang lebih suka menjual dalam kalangannya sendiri mulai muncul meramaikan pasar perbukuan nasional.


         Nah, pernah dengar tentang IKAPI? Apa itu IKAPI? Apa aja sih kerja IKAPI selama ini? Kok kayak ga terdengar gaungnya? Hehe, ga usah heran gitu dong, Kakak. Saya sendiri baru tahu nama IKAPI dan paham detail tentang IKAPI setelah membaca buku “Apa dan Bagaimana Menerbitkan Buku” yang terbit tahun 2012. Kuper banget yak. Wehehe. :D

        Di buku itu saya jadi paham bagaimana kerja IKAPI menyiasati pasar buku yang  berubah untuk masuk ke ranah perbukuan yang super canggih seperti sekarang, misalnya saja kalo dulu kita biasa baca buku, sekarang kita bisa menemukan ebook sebagai pengganti buku cetak. Tapi tidak semua penerbit mau menerbitkan lewat ebook. Hitungan secara untung dan rugi pasti sudah diperkirakan. Ebook belum membumi seperti buku karena kurangnya minat baca di kalangan masyarakat.

            Ada lagi kerja IKAPI yaitu membumikan lagi peran IKAPI sebagai asosiasi penerbit yang itu artinya kebayang dong ya, IKAPI harus menyatukan beragam penerbit yang menjadi anggotanya agar makin professional. Makanya diadakanlah beberapa kegiatan yang berhubungan dengan internal penerbit sendiri. Seperti mengirimkan
  • DELEGASI FBF 2013,
  • 2nd China-ASEAN Publishing Expo,
  • The International Seminar of Rights Business for Print and Digital Media in a Nutshell,
  • Konvensi Editor Indonesia 2013 maupun
  • Kelas Menulis Fiksi Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA)

            Untuk sejarah pendirian IKAPI, kita bisa simak di webnya ikapi.org, di mana disebutkan bahwa “IKAPI atau Ikatan Penerbit Indonesia merupakan asosiasi profesi penerbit satu-satunya di Indonesia menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia”.

            Sayangnya, ga semua penerbit mau lho untuk bergabung dengan IKAPI. Sejak era reformasi yang membuat semua orang berhak berpendapat dan berhak pula ikut atau tidak dalam suatu institusi/organisasi, perlahan mulai banyak penerbit baru yang tidak menggabungkan diri. Jadi IKAPI fokus pada anggota yang memang ingin bersinergi bersama organisasi ini membuat geliat perbukuan tetap bergaung di negeri sendiri.

            Nah, kalo saya pengurus IKAPI, reformasi apa yang saya kerjakan?
  1. Mengajarkan pada penerbit untuk membuat konsep buku yang bergizi sebelum diterbitkan. Konten itu penting sebelum kemasan. Kalau kontennya bagus dipadukan dengan kemasan, buku akan menjadi menarik untuk dibaca. Terbukti ada beberapa buku best seller yang dijadikan sebagai penanda perubahan iklim buku. Misalnya saja, kejayaan era buku islami yang ditandai best sellernya Ayat-ayat Cinta. Ada lagi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, menjadi penanda era buku-buku inspiratif bertema pendidikan. Sayangnya untuk buku paket kurikulum 2013 ini, pemerintah tak melibatkan IKAPI dalam mengonsep isi bukunya. Padahal buku sekolah seharusnya bisa menyasar pembaca yang tepat dengan konten yang tepat, ideal dan tidak membebani anak-anak dengan kurikulum yang diluar batas kemampuan.
  2. Pemberi efek buku laris itu ada media sosial, komunitas dan media massa. Tapi tak jarang saya lihat penerbit yang bukunya sudah banyak dan kontennya menarik malah penjualannya jeblok di pasaran karena marketingnya yang ga oke. Kalau saya jadi pengurus IKAPI, saya maunya penerbit belajar untuk keluar dari zona nyaman mereka selama ini. Ya mau oke gimana kalo tanpa merangkul ketiga unsur yang saya sebutkan tadi. Perubahan zaman sudah semakin cepat. Memang sudah waktunya penerbit mulai mengalihkan penjualan konvensional dari toko buku ke toko online. Mengingat tidak semua pembeli dekat dengan toko buku, kadang ada yang suka nanya ke saya juga, “Mba, beli buku ini di mana?” Maka biasanya saya jawab web penerbitnya, tapi kalo web penerbitnya saja tidak digarap dengan serius dan tanpa informasi penjualan buku-bukunya secara online, pembeli bakal mundur teratur. Media sosial bisa jadi booster untuk menarik minat beli buku yang baru terbit. Komunitas apalagi, ditambah dengan misalnya pemuatan resensi di media massa atau informasi launching buku ini itu di media massa. Akan banyak efek bola salju dari pemuatan ini.
  3. Regulasi pemerintah dan rancangan undang-undang perbukuan. Selama ini undang-undang perbukuan masih belum memihak pada para penulis dan penerbit. Royalti yang harus dipotong pajak 15 %, ditambah harga kertas yang berpengaruh dalam penentuan harga buku. Kalau dua itu saja diperbaiki, dunia perbukuan akan semakin menggeliat karena ongkos produksi bisa ditekan, dan penulis merasakan keuntungan dari royalty yang dihasilkan.
  4. Konsentrasi sebaran jumlah penerbit tak hanya terpusat di Jawa. Melihat daftar penerbit yang masuk menjadi anggota IKAPI, sebagian besar banyak di Jawa. Akses penjualan menurun di luar Jawa karena harga buku yang jatuhnya jadi mahal karena biasa ongkos kirim. Kalau penerbit ditempatkan di luar Jawa, biaya produksi bisa ditekan seminimal mungkin. Jadi, minat baca dan tulis di luar Jawa bisa meningkat.
  5. Mengadakan talkshow seputar peran dan fungsi IKAPI di pelosok negeri, terutama di luar pulau Jawa, membuat klub buku dan kampung dongeng untuk anak-anak di setiap perpustakaan daerah. Di daerah saya sudah ada klub buku dan kampung dongeng. Ini bisa memicu tumbuhnya pembaca baru. Perpustakaan Tegal juga sudah sangat nyaman untuk dikunjungi oleh masyarakat, bikin betah. Untuk talkshow saya belum pernah lihat IKAPI singgah di Tegal, atau saya yang kudet ya? :D
  6. Keikutsertaan di ajang Internasional didukung dana pemerintah maupun swasta. Pendanaan buku lokal yang diterjemahkan untuk diikutsertakan dalam ajang pameran Internasional, masih jarang menurut saya. Yang terdengar gaungnya saat ini hanya untuk keikutsertaan di Frankfurt Bookfair 2014. Nah, bagaimana dengan International Bookfair yang lain? Mungkin penerbit bisa melirik pendanaan dari sumber lain, misal : CSR perusahaan swasta.

Nah, keenam hal itu bisa disinergikan antara peran masyarakat, penerbit dan pemerintah agar tercapai hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya. 



4 comments:

  1. kuenya lucu banget bentuknya Ila

    ReplyDelete
  2. Reformasi yang keren banget mbak :D serius nggak sih kalo beneran direkrut sama IKAPI? hehhe semoga beruntung ya

    ReplyDelete
  3. saya juga baru tahu ttg IKAPI ini. Thanks infonya ya...

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)