Friday, 29 November 2013

Tarian Hujan

Tarian Hujan
By Ila Rizky Nidiana

            “Aku capek!” kata Nia ketus sambil berusaha melepaskan tangannya dari Rei.
“Aku capek, aku bĂȘte, aku mau naik ke atas,” kata Nia berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Rei, tapi ternyata cukup susah.
“Nia, aku tau kamu pasti marah sama aku. Ngambek karena aku gak nemuin kamu di kelas. Tapi maaf banget. Dengerin aku dulu, ya?”  kata Rei penuh harap. Nia cuma memandang Reid an menarik nafas panjang.
“Aku capek dengerin kamu, Aku lihat kamu dengan gadis itu pergi tadi siang di kantin kelas. Cukup, Rei! Cukup sudah kamu membuatku sakit hati!!” Nia mengusap pelan air mata di pipinya.
“Aku tahu aku salah. Dengerin dulu, aku mau jelasin semuanya.” Rei mulai putus asa membujuknya.
Nia menggeleng pelan. Masuk ke kamarnya di lantai dua.
***
Nia menulis surat di meja belajarnya, sembari melirik jam di tangannya. Masih ada tiga jam lagi sebelum jarum jam menunjuk angka duabelas. Nia menyalakan music kesukaan. Everything you do Christian Bautista mengalun lembut di telingaku. Menemaninya mengetuk-ketuk hati yang telah lama koyak ini.

Rindu itu masih sama, mengelusup bagai aliran sungai yang deras. Menuju satu nama. Ada geletar yang mendekapnya. Sentuhan-sentuhan kata di surat semakin menajam. Lekuk jemari menebar cinta. Seharusnya ini sudah kulakukan sejak hari itu, Rei. Seharusnya aku mengaku padamu, bahwa satu sisi hatiku masih merindumu. Aku masih tertambat pada sosokmu, sosok yang kukenal sejak pertama kali kita berkenalan di MOS SMA.

Satu yang tak pernah aku mengerti mengapa hatiku masih tertuju padamu. Setelah 4 kali, Rei. Setelah empat kali putus nyambung yang menyebalkan. Aku menantimu tanpa henti. Sebanyak buliran hujan yang kulihat jatuh di tepi jendela kamarku, sebanyak itu pula rindu masih memburu ke dalam  detak hatiku.

Adakah kau mendengarnya?
Jiwa pandanglah aku dengan cinta
Setiaku yang mengekalkan warna surga
Namamu bergema di celah jendela
Hujan membaringkan sajakku di tepi hati
.
Mendadak daun daun masak menjawab semuanya
Tawa dan ceria kita
Masih sama digenggam wangi dunia
Malam pun berisik meneduh
Lafal ayat menggenapkan sayap janji kita

Aku melepas jemariku dari lembar suratku. Detakan jarum jam melepaskan sentuhan terakhirku.  Seharusnya surat ini telah sampai kepadamu. Tapi sampai kini aku tak tahu bagaimana menghubungimu. Gengsiku lebih besar dari rasa cintaku. Rei, kau dimana?

Alunan tarian jemariku ini untukmu, Rei. Untukmu yang kupeluk rindu. Dialog kita telah mengudarakan pinta. Ada edelweiss yang kusimpan di kamarku dan cangkir kopiku yang masih hangat. Diluar hujan turun  berdenting. Satu-satu mengemas cinta di hatiku.

Aku paling suka hujan seperti ini. Setidaknya aku bisa mengenangmu. Aroma tanah membasah. Aroma  yang mengkaribkan hujan. Nyanyian yang sama polanya. Tarian hujan seperti episode mengepakkan sayap. Ada bidadari bertabur cahaya warna-warni bergulir melekat resah dan menari meniti pelangi.
***
Kau tak pernah kalah karena mencintai seseorang, tetapi akan selalu kalah ketika tak mengatakan bahwa dia adalah yang terindah dalam hidupmu. Mencintai dalam kebencian yang bergelut dengan debaran hati yang sering tak karuan. Kerap membingkai senyuman dan mengunci kenangan yang membahagiakan. Kenangan kita di sekolah.

Dua tahun ini Nia pindah rumah. Pindah lima ruas jalan dari rumah sebelumnya. Mama memilih rumah baru ini karena lebih nyaman ditempati,selain karena tak bocor dan lebih lebar. Lantainya ada dua juga. Rumah ini rumah baru. Suasana baru. Tetangga baru. Yang terakhir itu, Nia suka! Malam ini ia tidak bisa tidur. Belum biasa dengan suasana baru.  Kilatan cahaya. Ah! Akan hujankah? Namun tidak ada gemuruh yang terdengar.

Nia menatap jendela kamarku. Di luar ada sosok laki-laki berjalan mengitari rumah. Nia kaget. Tak biasanya ada orang yang mondar mandir di sekitar rumah. Jangan-jangan orang mau usil. Nia mengamati dari jendela kamarnya. Tiba-tiba bunyi bell berdentang keras. Di rumah tak ada siapa-siapa, kak aga dan mama sedang pergi. Nia turun perlahan sambil membetulkan letak sweater merah kesayangannya.

Crekkk!!

Bunyi suara pintu terbuka. Nia kaget. Di hadapannya berdiri laki-laki itu. Rei. Iya, Rei! Nia tak percaya. Berkali-kali ditatapnya laki-laki itu tanpa berkedip. Dan Nia memastikan itu memang Rei. Laki-laki yang dia sukai di sekolah dulu.
“Nia, aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menemuimu. Untuk meminta maaf“
“Minta maaf?”, tanyaku heran.
“Iya, aku minta maaf. Atas kesalahanku dulu. Bolehkah? Aku ingin kita seperti dulu, sama-sama lagi. Tertawa bersama. Menangis bersama. Aku ingin menetap saja. Dalam rumah hati kita. Aku tak akan memilih yang lain, Nia” Ucap Rei terbata. Wajahnya memancarkan senyum yang indah.
“Maukah kau menjadi kekasihku lagi? “ lanjutnya lagi.
Nia  tersentak. Degup jantungku mendadak  berdentum cepat.
“Tapi..”
“Aku ingin kamu. Itu saja, Nia. Mau kan?”
Nia mengangguk. Rona wajahnya berpadu senja yang menguning di balik cakrawala. Senja kota Bandung.  Kota kita, Rei
***
Semarang, 121211, 08:10

Nb : cerpen lama, hahaha. Jaman kapan itu, La? :p Mau dirombak jadi novel tapi kok males.

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)