Tuesday, 19 November 2013

Rupa-rupa GRI dan Resensi Buku

Rupa-rupa GRI dan Resensi Buku. Setelah saya masuk menjadi anggota Blogger Buku Indonesia  (BBI), pelan-pelan akhirnya saya bisa mengikuti ritme grup. Jujur, masuk ke BBI seperti masuk ke dalam sarang predator buku. Apalagi ketika bahasan tentang kritik sebuah buku. Saya pun mempunyai pandangan sendiri tentang sebuah buku, mengapa buku itu bagus dan layak diberi rating bagus di GRI(Goodreads Indonesia).

Seperti yang kita tahu, GRI jadi acuan selain resensi buku yang ditulis di blog maupun testimoni di twitter. Ada buku yang saya nilai bagus karena memang membahas sebuah tema yang beda dan khas. Tema itu belum pernah dibahas oleh penulis lain. Jadi ketika nemu bagus begitu, saya kasih rating tinggi. Normalnya memang 3-4 tapi kalo 5 berarti memang saya fanatik sama buku itu. Itu aja sih. :D


Soal kritikan terhadap sebuah buku, saya hanya berharap kalau suatu saat penulis pun akan bermetamorfosis sesuai dengan lama karir kepenulisannya. Dulu, waktu zaman kuliah, saya pernah baca novel Tasaro GK yang covernya 5 cowok kece. Bahasanya masih kaku waktu itu. Wajar ya, mungkin itu adalah novel dia yang pertama setelah sebelumnya dia menulis artikel khas wartawan. Saya membaca novel tanpa ada feel di dalamnya. Setelah buku ditutup, ya udah. Selesai. Bahkan saya tidak ingat bagian mana yang membuat saya tertarik menyelesaikan buku itu. Kebanyakan diskipnya.  Tapi sekarang saya baca Galaksi Kinanthi, beda banget dengan novel Tasaro yang dulu.

Beda lagi dengan buku Ollie yang saya baca tuntas 2-3 jam di perpus kota. Ternyata penulisnya punya kebiasaan membaca 2-3 buku setiap hari. Ya sekali lagi, wajar jika dia bisa menulis yang bagus. Karena penulis tanpa asupan membaca, akan jadi seperti apa?

Ngutip omongan Haris Firmansyah tentang proses menyelesaikan buku, saya lupa-lupa ingat redaksi katanya, udah lama :P Intinya, buku yang bagus itu dibuat dengan proses yang lama dan editing sana sini sampai memuaskan. Tujuannya agar ketika pembaca pengen nyelesein baca buku itu dia ga butuh waktu lama. Karena buku yang bagus memang buku yang membuat pembacanya mau menghabiskannya dalam sekali duduk.

Jadi silahkan pilih. Maukah penulis meluangkan waktu lebih banyak untuk merevisi bolong-bolongnya atau dia mau dikritik setelah buku terbit? Soalnya kalo di GRI serem kalo ngritik, bisa habis di sana karena pembacanya beragam. Apalagi kalau ada pembaca yang merasa rugi menghabiskan uang dan waktu untuk membaca buku yang kurang sreg.

Jadi, maafkan saya kalau ketika mengkritik sebuah buku di blog resensi kiky, saya benar-benar menuliskan apa adanya. Karena memang itu yang saya rasakan. :)

#Lagi pengen curhat aja.
191113, 11:22

6 comments:

  1. belum pernah nulis buku jadi gak tau rasanya di kritik. Tapi sebagian kritik juga bisa membangun ya

    ReplyDelete
  2. Dari dulu pengin gabung di BBI. Mesti punya blog khusus ya, Mbak? Itulah masalahnya... blog yang satu aja ga keurus. Hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba Yanti. Harus blog khusus. :D Kalo bisa pisahkan aja dulu, mba.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)