Sunday, 4 December 2011

Penulis Skenario atau Penulis Buku


  • Penulis Skenario atau Penulis Buku

    Mbak Ari, bukankah menjadi penulis skenario itu lebih cepat kaya daripada menjadi penulis buku. Kenapa Mbak Ari seperti lebih memilih menulis buku daripada menulis skenario?

    Wah, ini jawabannya panjang lebar. Tidak bisa saya jawab: suka-suka saya dong :)

    Sebenarnya itu pilihan. Penulis skenario dalam hitungan kasar terlihat lebih menjanjikan. Untuk penulis profesional 1 episode skenario durasi 1 jam dibayar 5-20 juta. Tinggal mengalikan kalau 10 episode berapa, 100 episode sudah punya apa. Realitanya tidak hanya hitungan uang yang harus dipertimbangan. Menulis skenario sangat rentan stres, didikte produser dan stasiun, diobrak-abrik sana sini, diganti-ganti format karakternya, ditulis dalam deadline superketat. Saya perlu uang dan sebagai muslim harus kaya dan makmur. Tapi saya tidak akan mengorbankan kesehatan dan perasaan saya demi uang. Sampai sekarang saya tetap menulis skenario secara temporer agar kemampuan menulis skenario tidak hilang.

    Berbeda dengan menulis buku, semuanya totalitas diserahkan pada saya. Kalau sekarang penerbit sudah mulai turut campur dengan bersama-sama memprogram dari awal. Namun pada saat penulisan tetap saya total yang mengatur mau seperti apa jadinya. Waktu juga lebih leluasa sehingga saya bisa memformat setiap tulisan secara berkualitas. Pendapatan sepertinya sangat kecil. Misalnya buku harga 50 rb berarti penulis hanya mendapatkan 10% atau 5 rb dipotong PPH 15% sebesar 1,5 rb. Jadi royalti bersih penulis hanya 3,5 rb tiap 1 eks buku yang terjual. Perlu penjualan buku 1000 eks, untuk mendapatkan 3,5 juta saja. Tentu ini sangat kecil dan perlu waktu lama untuk mendapatkannya. Sekurang-kurangnya laporan royalti dan pembayaran 6 bulan setelah buku terbit. Berbeda kasus dengan sistem jual beli putus, tapi saya tidak pernah melakukannya karena gambling dan jarang ada penerbit yang membeli naskah di atas 50 juta. Jadi, sama saja bunuh diri kalau menjual naskah dengan harga murah.

    Namun kalau buku sudah beredar di pasaran, sebenarnya tugas penulis hanyalah mekanis tanpa perlu berpikir untuk membantu penjualan. Jadi, kalau mau dapat 35 juta dari buku tersebut, sebenarnya penulis tinggal membantu penjualan. Saya sebut ini pekerjaan tidak berpikir, have fun, senang-senang; bisa roadshow, talkshow, bedah buku, book signing, workhshop, dll. Apalagi kalau kemasan bukunya keren, pede banget untuk menawarkan sana-sini ke semua kalangan. Sampai kapan saja, selama buku masih dicari, kita masih bisa menjual terus, mencetak terus, dan tidak  perlu berpikir lagi. Istilahnya uang datang sendiri.

    Sementara kalau skenario tiap satu episode selesai, kita dibayar dan berakhir. Untuk episode berikutnya mikir lagi susah payah sampai scene terakhir. Bagi saya sungguh melelahkan. Tidak ada sistem royalti dalam pembayaran skenario sinetron. Dalam format skenario film dari novel, ada beberapa penulis yang meminta royalti, tapi ini kasuistik. Tidak umum terjadi.

    Akhirnya, bagaimanapun saya salut sepenuhnya dengan para penulis skenario yang berjibaku dengan deadline dan kreativitas tiap hari. Terlebih dengan sistem stripping seperti sekarang. Saya tidak cukup kuat untuk bekerja seperti mereka. 10 tahun hilir mudik di PH, tentu bukan sembarangan saya mengatakan beratnya menjadi penulis skenario. Terlebih perasaan saya sangat sensitif dan saya bukan jenis orang yang suka didikte atau diatur. Beruntung saya bertemu produser yang mengerti karakter saya. Take it easy, kapan saya mau menulis skenario, tinggal telepon. Kalau mau break, ya tinggal bilang. Mungkin ini keberuntungan yang tidak dimiliki penulis lain.

    Sekarang, mau jadi penulis skenario atau penulis buku, pilihannya ada di tangan anda masing-masing. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Ketika saya memutuskan akan lebih banyak menulis buku, saya tahu konsekuensinya. Termasuk kesadaran dengan penghasilan yang tidak bisa diprediksi  kecil dan besarnya. Menurut saya pribadi, pasar buku Indonesia tetap menjanjikan dari tahun ke tahun. Di Indonesia masih tersedia ruang yang sangat besar untuk penulisan buku.

    Jadi, lebih baik menulislah mulai sekarang. Tidak usah terlalu meributkan kenapa seseorang memilih menjadi penulis skenario atau penulis buku. Bagi saya, kedua hal itu sama-sama menuntut kreativitas tinggi. Pilihlah yang paling sesuai dengan karakter pribadi anda. Tidak usah terlalu ribet dan banyak pikir soal uang. Kesempatan dan rezeki selalu datang dari segala arah bagi orang-orang yang bertekun dan total dalam mengerjakan sesuatu.

9 comments:

  1. Itu tulisan mba ari kinoysan, mba :D

    ReplyDelete
  2. Hmm,,,menulis mengasah Otak gak untuk dijual, tapi kalau laku kenapa tidak hehehe

    Salam...

    ReplyDelete
  3. Waaah... menarik... Terima kasih sudah merepost tulisan Mbak Ari di sini. Saya jadi bisa (turut) merasakan manfaatnya, hehe....

    Salam :-)

    ReplyDelete
  4. hmm..saya baru tau perbedaan antara penulis skenario dengan penulis buku...
    mungkin intinya penulis buku itu lebih idealis yah...sedangkan penulis skenario mau tak mau harus menyesuaikan selera pasar dengan tekanan dari berbagai pihak yah

    ReplyDelete
  5. apapun pilihannya, yang penting kita harus menulis dengan hati dan jujur.. setuju La?? hehe ;)

    ReplyDelete
  6. setiap tulisan punya takdir..!

    masih terngiang2 onoff 2011 kemarin. heheh..

    ReplyDelete
  7. ikut mengagumi pemikiran mbak Ari :)

    ReplyDelete
  8. Penulis Skenario, Penulis Buku, atau Penulis Blog. Sekedar hanya ingin menambahkan, gpp kan bro? Hehehe... Thanks ya sebelumnya...

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)