Wednesday, 4 May 2011

Tantangan Dakwah Era Reformasi: Dakwah bil Qolam. Siapkah kita?


Bismillahirrohmanirrohiim...

Di zaman sekarang, istilah peradaban lazim disebut peradaban masyarakat informasi. Hal ini dikarenakan, setiap orang dapat membentuk opini publik yang mempengaruhi dan mengandalikan pikiran, sikap dan perilaku manusia. Dunia informasi sekarang dipegang oleh kaum kuffar (sabilis/zionis) yang melakukan “penjajahan reformasi dan media massa” sehingga sering diadakan isu-isu global untuk kepentingan mereka sendiri, seperti HAM, lingkungan hidup, demokrasi, dsb. Hal ini digunakan untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi. Akibatnya sungguh miris, bidang ekonomi-sosial-budaya dikuasai kelompok sekuler atau nonislam.

Zionis sering  memanipulasi berita tentang agama Islam agar Islam terpojokkan.  Ini disebut, Demonologi Islam (penyesatan Islam). Pers barat sering melakukan Ghazwul Fikri wal Ghazwul Tsaqofi yakni mensosialisasikan nilai-nilai, pemikiran dan budaya mereka ke dunia Islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat Islam cenderung lebih berkiblat ke Barat daripada taat pada peraturan Islam. Link media masa yang utama yang mereka kuasai anatara lain:
1.    News Agency (kantor berita dunia)
2.    Press (surat kabar)
3.    Jaringan TV/radio , industri sinema dan program TV
4.    Industri percetakan
5.    Penerbitan (publishing)
6.    Distribution (penyaluran)
7.    Kantor berita Yahudi :
a.    Reuter (London)
b.    Assosiated Press (AP –Amerika)
c.    United Press International (UPI- Amerika)
8.    Perusahaan film:
a.    Fox Company, Paramount Company
b.    Golden, Metro, Warner Broos

Inti dari semua tindakan kaum zionis di bidang penyebaran media informasi adalah imperialisme media masa yaitu Gerakan Islam Fundamentalis. Inti gerakan ini adalah menyebarkan paham bahwa islam itu berbahaya, intoleran, anti demokrasi,  ortodoks, haus darah, dsb. Mereka menciptakan Fobia Islam, yaitu menciptakan isu tentang citra Islam, dengan isu teror bom, militan, ekstrim, fundamentalis,dsb.

Dakwah bil Qolam (DBQ) , makna dan problematika:

Tujuan DBQ:
1.    Pendidik (muaddib)
2.    Pelurus informasi tentang ajaran umat islam (musaddid)
3.    Pembaharu pemahaman tentang islam(mujaddid)
4.    Pemersatu/perekat ukhuwah islamiyah (muwalid)
5.    Pejuang, pembela, penegak agama dan umat islam (mujahid)

Keunggulan DBQ:
1.    Sifat objeknya yang massif, cakupannya yang luas.
Tulisan adalah tamannya para ulama ( Ali bin Abi Thalib)
2.    Untuk mengendalikan dan menyebarluaskan pandangan-pandangan keislamannya. Biasanya ditulis dalam “kitab kuning”.
Pikiran manusia terekam di ujung pena mereka (plato)

Istilah-istilah dalam jurnalisme:
1.    Shuhuf = kumpulan wahyu
2.    Shahifah = surat kabar/koran
3.    Shahafi = wartawan.jurnalis

Penulis terkenal:
Ibnu taimiyah, Jamaluddin Al Ghifari, M Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, Amir Syakib Arsalan, Abdurrahman Al Kawakiby.
Negara islam pakistan dipelopori oleh tulisan Mohammad Iqbal.
Satanic verses (ayat-ayat setan) membawa nama Salman Rushdie dikenal sebagai orang yang melecehkan Islam, oleh pemerintah Iran, ia pun dihukum mati.




Konsep Jurnalisme Profetik:
Jurnalistik Islami bernafaskan jurnalisme profetik, suatu bentuk jurnalisme yang tidak hanya melaporkan berita dan masalah secara lengkap, jelas, jujur, aktual, memberikan perdiksi dan petunjuk  ke arah perubahan, transformasi, berdasarkan cita-cita etik dan profetik islam. (QS. 3:104), cek ricek (QS. 49:6)

Sifat yang harus dimiliki:
1.    Shidiq
Menginformasikan yang nebar saja dan membela serta menegakkan kebenaran itu. Standar kebenaran disesuaikan dengan Al qur’an dan sunnah.
2.    Amanah
Terpercaya, dapat dipercaya, tidak boleh berdusta/ memanipulasi/mendistorsi fakta.
3.    Tabligh
Menyampaikan/menginformasikan kebenaran bukan memutarbalikkan.
4.    Fathonah
Cerdas dan berwawasan luas
Jurnalis muslim dituntut untuk mampu menganalisis dan membaca  situasi termasuk membaca apa yang diperlukan ummat.

Peran jurnalis muslim:
1.    Pendidik (muaddib)
melaksanakan fungsi edukasi yang islami
2.    Pelurus informasi (musaddid)
a.    informasi tentang ajaran dan ummat islam, informasi tentang karya-karya/prestasi ummat islam
b.    mampu menggali /investigative reporting tentang kondisi umat islam di berbagai penjuru dunia. (informasi dari pers barat biasanya biased, menyimpang dan berat sebelah, distorsif, manipulatif, merekayasa)
3.    Pembaharu (mujaddid)
Penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran islam (reformis islam) untuk menyeru umat islam memegang teguh Al Qur’an dan Sunnah , serta untuk memurnikan pemahaman tentang Islam dan pengamalannya dalam segala spek kehidupan.
4.    Pemersatu (muwalid)
Harus mampu menjadii jembatan yang mempersatukan umat islam. Menjunjung tinggi kode etik berupa impertiality (tidak memihak golongan tertentu dan menyajikan 2 sisi daris etiap informasi (both side information)
5.    Pejuang (mujahid)
Membentuk pendapat umum yang mendorong penegakan nilai-nilai islam, mempromosikan citra islam , mempromosikan citra islam yang positif dan rahmatalila’lamin, menanamkan ruhul jihad di kalangan umat.


Kode etik jurnalistik islam:
1.    Menginformasikan /menyampaikan kebenaran, tidak merekayasa.
“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. AL Hajj :30)
“Hendaklah kamu berpegang teguh pada kebenaran karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga” (HR. Mutafaq Alaih)
“Katakanlah kebenaran walaupun pahit rasanya” (HR Ibnu Taimiyah)
2.    Bijaksana, penuh nasihat yang baik, serta argumentasi yang jelas dan baik pula. Karakter, pola pikir, kadar pemahaman, objek pembaca harus dipahami , sehingga tulisan berita yang dibuat pun akan disesuaikan sehingga mudah dibaca dan dicerna.
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan penuh kebajikan(hikmah), nasihat yang baik, serta bantahlah mereka dengan bantahan (argumentasi) yang lebih baik.” (QS. An Nahl:125)
3.    Meneliti fakta sebelum dipublikasikan (check dan ricek)
“hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita carilah keterangan tentang kebenarannya supaya jangan kamu rugikan orang karena tidak tahu.” (QS. Al Hujurat :6)
4.    Hindari menghina dan mencaci-maki  sehingga menimbulkan permusuhan dan kebencian.
“Hai orang-orang beriman, janganlah ada diantara kamu yang mengejek orang lain. Mungkin yang diejek itu lebih baik dari mereka yang mengejek. Janganlah kamu saling mencaci dan janganlah  saling memberi nama ejekan. Amat buruk nama yang fasik(dilontarkan kepada orang) sudah beriman.” (QS. Al Hujurat:11)
5.    Hindari persangkaan buruk (suudzan)
Azaz praduga tak bersalah (QS. Al Hujurat :12)

Kelemahan pers Islam:
1.    Lemahnya dukungan dana
2.    Lemahnya manajemen (gaya bahasa, teknik penulisan, pemilihan dan pemilahan topik, tampilan produk/cover kurang menarik, pemasaran kurang promosi/jemput bola.
3.    Lemahnya minat baca tentang berita islami.
4.    Sektarian, kurang/tidak independen, cenderung eksklusif.

Dari penjabaran konsep jurnalisme profetik diatas, diperoleh kesimpulan bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan disana-sini, baik dari segi SDM maupun dana. Maka, sudah menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan pencapaian terbaik sepak terjang jurnalisme kita, yang berbasis profetik, dan tentu saja berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Maka, sudah siapkah kita menyongsong era reformasi di bidang ini? Wallahu’alam.  



Sumber: Jurnalistik dalam Islam (penerbit Pers IAIN Walisongo Semarang)





Sumayah Appartment, 041007, catatan kecil di buku diariku, saat akan mengikuti sesi Lomba Karya Tulis Al Qur’an (LKTA)

~Syukran Jazakillah Khoir buat Mbak Hindri-ku sayang (Pemred Mathematics Journalist Club 2006) :D  atas pinjaman bukunya... Sungguh, sangat berguna sekali, Mbak...  ^_^ ~

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)