Friday, 7 January 2011

Stop! Jangan lagi!




Tak kuhiraukan ucapan permintaan maafnya padaku, hanya terdiam, lalu sejenak uluran tangannya yang paksa untuk berjabat denganku, segera kutarik kembali.

“Mbak Rani marah ya? Saya minta maaf ya, tadi...”
“Nggak sengaja, mbak...Sumpah....”, lanjutnya seraya mengulurkan tangan kanannya.

Kujawab pertanyaannya sekenaku. Aku ingin berteriak! Ya, Aku marah! Namun urung kulakukan, hanya ucapan ‘iya’ terpaksa terlontar. Usai ia pergi meninggalkan kamarku, aku menangis! Sakit? Tentu saja! Rasa sakitnya menjalar sampai ke ubun-ubun. Kulihat wajahku di cermin besar di hadapanku. Bayang yang terlintas adalah sosok dengan muka semakin merah padam.

Aku berjalan tergesa ke kamar mandi. Kuambil air  wudhu. Rasa sakit di tubuh tak jua hilang usai diguyur air. Rasa panas itu masih ada. Dan rasa sakit yang menjalari sukmaku pun masih terasa. Jauh lebih  perih dibanding tersayat benda tajam.

Saat sudah berada di kamarku sendiri, kuambil mukena dan sajadahku. Rasanya ingin segera menghilang dari muka bumi ini. Menghilang dan melupakan semua yang terjadi. Tanpa terasa, dalam sujud panjangku, bulir-bulir di sudut mataku makin tak bisa kubendung lagi. Ia mengalir, membasahi sajadah merah dihadapanku. Jatuh setetes demi tetes.

Aku terdiam lama. Tubuhku kaku sejenak. Masih kuingat kejadian beberapa menit yang lalu. Aku berjalan melewati kamarnya yang tepat berada di samping kamarku, usai menonton acara televisi bersama penghuni yang lain. Baru beberapa langkah, tepat saat di depan pintu kamarnya, ia menepuk pantatku dengan buku yang digulung sedemikian rupa. Plak! Aku meringis menahan sakit yang kurasakan menjalar keseluruh bagian tubuhku. Panaas!

Tangisku pun hampir pecah, namun kutahan. Mataku nanar. Segera aku berlari ke kamar, pintu kututup, sementara tirai jendela yang terbuka segera kusingkap. Sebodo amat dengan semua yang terjadi, aku menangis sejadi-jadinya. Entah isakanku terdengar dari luar atau tidak. Entahlah. Tiba-tiba saja, sosok itu muncul dihadapanku dan meminta maaf dengan wajahnya yang sok innocent.

Duhai Rabbi... Aku tak ingin tangis itu pecah, sungguh! Sangat tak layak diri ini  menangis karena suatu hal yang sepele, namun naluriku  berontak! Tak sepantasnya seseorang memukulku dengan keras tanpa sebab. Ya, apa salah jika aku ingin menangis? Tentu tidak, bukan? Itu hakku! Siapa dia? Apa haknya memukulku begitu rupa?

Jika aku mau, aku bisa memukulnya balik. Membalasnya dengan pukulan yang jauh lebih meyakitkan. Tapi aku memilih diam seribu bahasa. Membiarkan kesunyian menyergapku dalam diam. Entah... Semakin aku membencinya, semakin sadar aku bahwa ia tak lagi sewaras dulu.

Gadis itu memang gila! Edan dia! Sempat berkali-kali kudengar beberapa orang mengadu padaku tentang Manda, tapi bukan aku tak percaya bahwa gadis cantik macam dia berani bersikap memuakkan dengan asal memukul tanpa sebab. Benar-benar ringan tangan! Kejadian hari inilah yang membuka mataku siapa Manda sebenarnya. Ia tak lebih gadis yang gila!




(sampe disini dulu ya.. :D lagi gak moody nulisnya neh.. dah malem pula, ngantuk euy...:D ada yang mau lanjutin tak? Silahkan... ^^)


Home Sweet Home, 200109, 23:06
`saat kata tak lagi berguna, apa tubuh pun harus ikut berbahasa?`

diambil dari blog multiply lamaku

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung.
Mohon komen pakai url blog, bukan link postingan. Komen dengan menggunakan link postingan akan saya hapus karena jadi broken link. :)